GAZA, METROSELEBES.COM - Tragedi diam terjadi di perbatasan Gaza.
Sebanyak 22 ribu kontainer logistik berisi makanan dan kebutuhan hidup lainnya disebut tertahan hanya beberapa meter dari para warga Gaza yang mengantre dengan perut kosong.
Ironisnya, logistik ada, bantuan tersedia, namun sengaja tidak diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Kondisi ini mengundang perhatian dunia, terlebih ketika muncul pernyataan dari tokoh kemanusiaan bahwa krisis kelaparan yang terjadi di Gaza bukan karena kekurangan pasokan, melainkan sengaja diciptakan.
Baca Juga: Merah Putih Jadi Simbol Koperasi Desa: Pemerintah Satukan Regulasi Pembiayaan Kopdes/Kel
Ini bukan kegagalan distribusi, tapi strategi sistematis yang dinilai sebagai bagian dari genosida modern yang dibungkus dalam senyap.
Menurut laporan lapangan dari aktivis MHusein Gaza, lebih dari 180 jiwa telah gugur karena kelaparan. Sebuah fakta tragis yang menunjukkan bagaimana nyawa warga Gaza dianggap tak layak hidup.
Tambahan lagi, hingga hari ini tercatat 200 lebih jurnalis telah tewas, dan ratusan alat dokumentasi dihancurkan. Tujuannya jelas—agar kebenaran tak sampai ke dunia luar, dan suara Gaza terkubur dalam sunyi.
Baca Juga: PMK 49 2025: Jurus Baru Pemerintah Atasi Krisis Permodalan Koperasi Desa
Situasi ini dikuatkan oleh laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyebutkan bahwa akses terhadap bantuan kemanusiaan ke Gaza masih sangat dibatasi, meskipun ada puluhan ribu ton makanan dan obat-obatan yang tertahan di perbatasan Rafah maupun Kerem Shalom.
Laporan PBB menyebut, sejak awal tahun 2025, lebih dari 60% anak-anak di Gaza mengalami malnutrisi akut akibat blokade total yang dilakukan pasukan pendudukan.
Krisis ini bukan hanya bencana kemanusiaan, melainkan penghilangan hak dasar atas hidup, dan dunia disebut hanya melihat sebagian kecil dari kenyataan.
Artikel Terkait
IEU-CEPA Disepakati, Prabowo Kukuhkan Posisi Tawar RI di Eropa
Akses Penuh Amerika ke Sumber Daya RI: Kesepakatan Bebas Tarif yang Mengejutkan”
Ledakan Mengguncang Jantung Damaskus, Wartawan Al Jazeera Nyaris Jadi Korban Serangan Udara Israel DAMASKUS,
Wells Fargo Hentikan Perjalanan ke China Usai Karyawannya Dilarang Keluar dari Negara Itu
Rosneft Tunjuk Kembali Eks Menteri Energi Qatar sebagai Ketua Dewan Direksi di Tengah Tekanan Sanksi Uni Eropa
Elliott Desak Ketua Baru BP Atasi Kinerja Operasional yang Buruk
Investor Antusias Sambut Potensi Kesepakatan Dagang AS-Uni Eropa Jelang Tenggat Tarif 1 Agustus
Kamboja Desak Gencatan Senjata Tanpa Syarat, Bentrokan Makin Memanas di Perbatasan dengan Thailand
Harga Produk Sehari-hari di AS Naik Imbas Tarif Trump, P&G hingga Nestle Tertekan
Trump Umumkan Tarif 15% untuk Impor Korea Selatan, Disertai Investasi Raksasa $350 Miliar di AS