Wells Fargo Hentikan Perjalanan ke China Usai Karyawannya Dilarang Keluar dari Negara Itu

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 18 Juli 2025 | 07:52 WIB
Orang-orang berjalan melewati cabang bank Wells Fargo di New York City, AS, pada 4 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS
Orang-orang berjalan melewati cabang bank Wells Fargo di New York City, AS, pada 4 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS

NEW YORK/BEIJING,METROSELEBES.COM-Wells Fargo, salah satu bank terbesar di Amerika Serikat, telah menghentikan seluruh perjalanan bisnis ke China setelah salah satu bankir seniornya, Chenyue Mao, dikenai larangan keluar dari negara tersebut. Kejadian ini memicu kekhawatiran baru di kalangan perusahaan multinasional mengenai risiko perjalanan dan keselamatan karyawan di China. Seperti dikutip dari Reuters pada (18/07/2025).

Baca Juga: Jaguar Land Rover Dukung Proyek Daur Ulang Baterai EV di Inggris, Didanai Pemerintah Rp55 Triliun

Menurut laporan Wall Street Journal yang dikonfirmasi oleh seorang sumber kepada Reuters, Mao — warga negara AS kelahiran Shanghai yang saat ini berbasis di Atlanta — tidak diizinkan meninggalkan China setelah kunjungan bisnisnya beberapa minggu terakhir. Mao menjabat sebagai Managing Director di Wells Fargo dan memimpin divisi internasional pembiayaan piutang (factoring) bank tersebut.

 

Wells Fargo: Fokus Pulangkan Karyawan

 

Dalam pernyataan resminya, Wells Fargo mengatakan, “Kami terus memantau situasi ini secara ketat dan bekerja melalui saluran yang sesuai agar karyawan kami dapat segera kembali ke Amerika Serikat.”

 

Larangan keluar ini muncul di tengah ketegangan geopolitik antara AS dan China yang makin dalam, serta memperkuat kekhawatiran di kalangan perusahaan asing mengenai keamanan personal dan kebebasan bergerak di China. Beberapa perusahaan bahkan mulai mempertimbangkan ulang rencana perjalanan atau operasi bisnis mereka di negara tersebut.

 

Meningkatnya Kekhawatiran Dunia Usaha

Baca Juga: Tarik Diri dari Pasar AS, Volvo Pangkas Penjualan dan Hentikan Model Sedan karena Tekanan Tarif

Mark Headley, CEO dari Matthews Asia, perusahaan pengelola aset berbasis di San Francisco yang mengelola dana sebesar $6,5 miliar, menyatakan keprihatinannya. “Apakah saya perlu khawatir soal staf saya yang berada di China atau yang akan bepergian ke sana? Hal ini kembali menjadi prioritas utama dalam pikiran saya,” ujarnya kepada Reuters. Meski belum menghentikan perjalanan bisnis ke China, Headley mengatakan akan terus memantau situasi secara seksama.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X