Inti berita:
• Guru SDK Ogolau di Parigi Moutong viral karena memasak makanan untuk murid-muridnya yang belum menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG), diduga akibat kendala akses ke wilayah terpencil.
MetroSelebes.com, PARIGI MOUTONG - Nun jauh dari keramaian kota, di sebuah sekolah kecil yang berada di wilayah perbukitan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, perhatian publik tertuju pada kisah seorang guru yang memilih turun langsung ke dapur demi memastikan murid-muridnya tetap bisa menikmati makanan di sekolah. Aksi tersebut viral di media sosial dan memunculkan diskusi mengenai pemerataan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah terpencil.
Guru PPG Prajabatan SDK Ogolau, Riska Andriani, melalui akun Instagram @rskdrian, menceritakan bahwa inisiatif memasak dan membagikan makanan dilakukan karena sekolah tempatnya mengajar hingga kini belum menerima layanan MBG. Menurutnya, kondisi geografis yang sulit dijangkau diduga menjadi salah satu kendala sehingga program tersebut belum sampai ke sekolah mereka.
Dalam unggahannya, Riska mengaku terdorong membuat makanan sederhana agar para siswanya tidak merasa tertinggal dibanding anak-anak di sekolah lain. Ia juga mengungkapkan bahwa pertanyaan mengenai kapan MBG akan hadir hampir setiap hari disampaikan oleh para murid. "Mereka selalu tanya, 'Ibu kapan torang dapat MBG?' Di desa ini hanya sekolahku yang belum dapat MBG karena akses sulit," tulisnya.
Riska menjelaskan makanan yang dibagikan bukanlah pengganti resmi MBG. Menu yang disiapkan masih sederhana dan belum disusun berdasarkan standar gizi sebagaimana ketentuan program pemerintah. Seluruh bahan makanan, kata dia, berasal dari bantuan para donatur yang ikut membantu memenuhi kebutuhan anak-anak sambil menunggu program resmi dapat menjangkau sekolah tersebut.
Melalui unggahan yang telah ditonton lebih dari 160 ribu kali itu, Riska juga berharap perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada wilayah yang mudah dijangkau. Menurutnya, anak-anak di daerah pelosok juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan MBG, sekaligus membutuhkan perbaikan akses jalan agar mobilitas siswa dan distribusi program pemerintah menjadi lebih mudah.
Baca juga: Hotman Paris Resmi Bela Febrie Adriansyah, Sindiran KUHAP Berujung Jadi Kuasa Hukum
Kisah tersebut mendapat banyak respons positif dari warganet. Salah satu komentar menyebut, "Padahal ini yang membutuhkan MBG, mereka yang ada di wilayah 3T," sementara warganet lain menilai anak-anak di daerah terpencil semestinya menjadi prioritas penerima manfaat program. Ada pula usulan agar masyarakat setempat dilibatkan dalam penyediaan makanan apabila distribusi dari luar masih mengalami kendala.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis terkait kondisi SDK Ogolau maupun penyebab sekolah tersebut belum menerima layanan MBG. Namun, kisah Riska Andriani menjadi potret tantangan pemerataan program di wilayah dengan akses terbatas, sekaligus mengingatkan pentingnya memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh hak yang sama tanpa terkecuali. (*)
(Key/Ade)
Artikel Terkait
Update KM Nurul Salsa Tenggelam: Puluhan Penumpang Masih Hilang, KRI Marlin-877 Dikerahkan Sisir Laut Selayar
Viral Peserta Tur Hilang di Korea Selatan, Travel Sebut Pamit Beli Sepatu lalu Tak Kembali, Muncul Dugaan Kerja Ilegal
Petisi Diskualifikasi Argentina Tembus 15 Juta Tanda Tangan, Kontroversi VAR Piala Dunia 2026 Kian Memanas
Hotman Paris Resmi Bela Febrie Adriansyah, Sindiran KUHAP Berujung Jadi Kuasa Hukum
Polisi Pastikan Barang Bukti Rp476 Miliar dalam Kasus Febrie Adriansyah Asli, Berkas Diserahkan ke Kejaksaan