WASHINGTON, METROSELEBES.COM – Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi memperluas kebijakan tarif terhadap produk berbahan baja dan aluminium.
Keputusan ini menambah daftar panjang barang impor yang terkena bea masuk tinggi, mulai dari suku cadang mobil hingga furnitur rumah tangga.
Kebijakan tarif tersebut merupakan bagian dari strategi dagang Presiden Donald Trump yang sejak awal kepemimpinannya telah mengenakan tarif 10 persen kepada hampir semua mitra dagang AS.
Baca Juga: Paus Leo XIV Resmi Dilantik, Catat Sejarah Sebagai Paus Pertama Dari Amerika Serikat
Kini, total ada 407 kategori produk yang masuk daftar baru dengan tarif sebesar 50 persen, berlaku efektif mulai Rabu, 20 Agustus 2025.
Pejabat Kementerian Industri dan Keamanan AS, Jeffrey Kessler, menyebut tarif tambahan mencakup komponen otomotif, baja listrik untuk kendaraan listrik, hingga peralatan industri seperti kompresor dan pompa.
“Langkah ini memperluas cakupan tarif baja dan aluminium serta menutup celah penghindaran. Kami ingin mendukung revitalisasi industri baja dan aluminium Amerika,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera.
Baca Juga: Trump Pertimbangkan Tarif Baru untuk China Terkait Impor Minyak Rusia
Namun, kebijakan ini menuai kritik keras dari produsen otomotif asing. Mereka menilai kapasitas produksi baja dalam negeri AS belum cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga tarif baru justru berisiko mengganggu rantai pasok global.
Sebaliknya, perusahaan baja lokal seperti Cleveland-Cliffs mendukung penuh langkah tersebut. Mereka bahkan sebelumnya mendorong agar lebih banyak suku cadang otomotif dikenakan tarif tinggi guna melindungi industri domestik.
Baca Juga: Trump Janjikan Upaya Selamatkan Jimmy Lai di Tengah Negosiasi Dagang dengan China
Dampak tarif ini juga dirasakan sektor ritel dan barang konsumsi. Perusahaan besar seperti Home Depot mengumumkan kenaikan harga sejumlah produk impor, sementara raksasa furnitur global Procter & Gamble menyatakan akan menaikkan harga sekitar seperempat dari produk mereka.
Para analis memperkirakan kebijakan tarif baru ini akan mendorong lonjakan harga berbagai barang berbahan baja dan aluminium di AS. Konsumen pun diprediksi akan merasakan langsung efeknya, terutama di sektor otomotif, peralatan rumah tangga, hingga furnitur global. ***
Artikel Terkait
Pasar Saham Asia Menguat Tipis, Investor Tunggu Data Inflasi AS dan Pertemuan Trump–Putin
Perusahaan China Ramai-ramai Pindahkan Investasi Ke Indonesia Demi Hindari Tarif AS
China Sebut Pemasangan Pelacak Lokasi pada Pengiriman Chip oleh AS sebagai “Insting Kekaisaran Pengawasan”
Trump Janjikan Upaya Selamatkan Jimmy Lai di Tengah Negosiasi Dagang dengan China
Trump Pertimbangkan Tarif Baru untuk China Terkait Impor Minyak Rusia
China Kembali Impor Kanola dari Australia Setelah Empat Tahun Terhenti
Brasil Tolak Investigasi Dagang AS, Sengketa Mengarah ke WTO
Pop Mart Catat Lonjakan Pendapatan 204%, Boneka Labubu Jadi Andalan Global
Putusan Mahkamah Agung Inggris Buka Jalan Konsolidasi Industri Pembiayaan Mobil
Rusia Kerahkan Pengebom Nuklir Tu-95MS dalam Patroli Panjang di Laut Jepang