Harga Produk Sehari-hari di AS Naik Imbas Tarif Trump, P&G hingga Nestle Tertekan

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Rabu, 30 Juli 2025 | 08:44 WIB
Produk rumah tangga buatan Procter & Gamble Co terlihat di rak sebuah toko Dollar Tree di Newburgh, New York, AS, 14 Mei 2023. Source FOTO: REUTERS
Produk rumah tangga buatan Procter & Gamble Co terlihat di rak sebuah toko Dollar Tree di Newburgh, New York, AS, 14 Mei 2023. Source FOTO: REUTERS

WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump mulai menunjukkan dampaknya. Sejumlah perusahaan besar, termasuk produsen barang konsumen Procter & Gamble (P&G), Nestle, Kimberly-Clark, hingga PepsiCo, menyatakan akan menaikkan harga produk untuk menutupi beban biaya impor yang kian berat. Seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (30/07/2025).

Baca Juga: Pinjaman Koperasi Kini Lebih Selektif: Ini Syarat Lengkap Berdasarkan PMK No. 49/2025

P&G, pembuat produk rumah tangga mulai dari tisu Bounty hingga deterjen Tide, pada Selasa lalu memperingatkan akan adanya kenaikan harga pada sekitar seperempat produknya di AS mulai pekan depan. Kenaikan ini rata-rata berada di kisaran satu digit menengah dan ditujukan untuk mengompensasi biaya tambahan dari tarif baru.

 

Langkah tersebut menandakan tantangan serius bagi konsumen dan investor. Perusahaan menghadapi pilihan sulit: menanggung penurunan keuntungan atau mengalihkan beban biaya kepada pelanggan. “Perusahaan seperti Walmart, Amazon, dan Best Buy tidak punya pilihan selain meneruskan kenaikan harga ini ke konsumen,” kata Bill George, mantan CEO Medtronic dan pengajar di Harvard Business School.

Baca Juga: Skema Pinjaman Koperasi Desa Merah Putih : 3 Miliar, Ini Syarat Lengkap dan Tahapannya

Sejak Trump mengumumkan tarif impor pada 2 April lalu, saham P&G telah turun 19%. Saham Nestle merosot 20%, Kimberly-Clark kehilangan 11%, dan PepsiCo hampir 7%. Sebaliknya, indeks acuan S&P 500 justru naik lebih dari 13% berkat lonjakan saham teknologi.

 

Konsumen di AS sendiri masih berhati-hati berbelanja setelah pandemi, terutama pada produk makanan kemasan bermerek yang makin mahal. Nestle baru-baru ini mengungkapkan bahwa pembeli di Amerika Utara enggan membayar lebih di kasir.

 

Perusahaan global tercatat dalam pantauan Reuters memprediksi kerugian gabungan sebesar US$7,1 hingga US$8,3 miliar sepanjang tahun akibat tarif. Produsen mobil seperti General Motors dan Ford sejauh ini memilih menanggung biaya miliaran dolar, sementara beberapa perusahaan lain mengakali dengan menimbun bahan baku sebelum tarif diberlakukan.

Baca Juga: Kredit Rp 3 Miliar untuk Kopdes, Pemerintah Luncurkan Skema Pinjaman Koperasi Desa Bunga Rendah

Namun para ekonom memperingatkan, dampak penuh terhadap inflasi baru akan terasa ketika stok barang lama habis, kemungkinan pada kuartal IV 2025 atau awal tahun depan. Beberapa perusahaan justru sudah menaikkan harga, seperti EssilorLuxottica, pembuat kacamata Ray-Ban, serta Swatch yang menaikkan harga jam tangan sekitar 5% tanpa memengaruhi penjualan.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X