JAKARTA,METROSELEBES.COM-Amerika Serikat memperketat pembatasan produksi chip oleh raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung Electronics (005930.KS) dan SK Hynix (000660.KS), dengan mencabut izin yang selama ini memungkinkan kedua perusahaan menerima peralatan manufaktur semikonduktor dari AS untuk pabrik mereka di China. Informasi ini tercantum dalam dokumen resmi yang dipublikasikan di Federal Register. Seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (29/08/2025).
Baca Juga: DPR RI Berduka, Janji Kawal Keadilan Pasca Wafatnya Affan Kurniawan
Departemen Perdagangan AS sebelumnya memberikan pengecualian terhadap aturan ketat yang diberlakukan sejak 2022, yang membatasi penjualan peralatan chip buatan Amerika ke China. Namun, dengan pencabutan izin tersebut, Samsung dan SK Hynix kini diwajibkan mengajukan lisensi untuk dapat membeli peralatan produksi chip di wilayah China.
Selain kedua perusahaan Korea Selatan itu, Intel (INTC.O) juga masuk dalam daftar perusahaan yang izinnya dicabut. Meski demikian, dampaknya lebih kecil bagi Intel karena perusahaan tersebut telah menjual unit pabriknya di Dalian, China, awal tahun ini.
Pencabutan izin ini tidak langsung berlaku, melainkan memiliki masa tenggang selama 120 hari. Departemen Perdagangan AS menegaskan bahwa pihaknya akan tetap mempertimbangkan pemberian lisensi agar perusahaan bisa terus mengoperasikan fasilitas yang ada, namun tidak akan mengizinkan ekspansi kapasitas maupun peningkatan teknologi di fasilitas mereka di China.
Kementerian Perindustrian Korea Selatan mengungkapkan bahwa pihaknya terus berkomunikasi dengan pemerintah AS, menekankan pentingnya kelancaran operasi perusahaan semikonduktor Korea di China untuk menjaga stabilitas rantai pasok global. "Kami akan melanjutkan diskusi dengan pemerintah AS untuk meminimalkan dampak kebijakan ini," kata kementerian tersebut dalam pernyataan resmi.
Kebijakan baru ini diprediksi akan menekan penjualan perusahaan penyedia peralatan manufaktur chip asal AS seperti KLA Corp (KLAC.O), Lam Research (LRCX.O), dan Applied Materials (AMAT.O), yang sahamnya tercatat menurun tajam usai pengumuman tersebut: Lam Research turun 4,4%, Applied Materials 2,9%, dan KLA 2,8%.
Baca Juga: Kakek Tua Terlempar Saat Tebang Kelapa, Video Viral Hebohkan Warganet
Seorang pejabat Gedung Putih sebelumnya telah mengisyaratkan langkah ini sejak Juni lalu, menyebut bahwa AS “sedang menyiapkan langkah antisipasi” jika kesepakatan gencatan dagang dengan China gagal. Saat ini, AS dan China berada dalam masa gencatan tarif, dengan tarif 30% untuk impor dari China ke AS dan 10% tarif untuk barang AS ke China yang berlaku hingga November mendatang.
Artikel Terkait
Tunjangan Rumah DPR Hanya Berlaku Sementara, Publik Ramai Pertanyakan Keadilan
Koperasi Jadi Pilar Ekonomi Baru, Potensi Besar di Sektor Pertanian hingga Digital
Pemerintah Gelontorkan 45 Ribu Ton Beras SPHP, Jaga Harga Tetap Stabil Hingga 2025
Digitalisasi Koperasi Desa Didorong Jadi Gerakan Hybrid Inklusif untuk Rakyat
Sri Mulyani Tegaskan: Pajak Penentu Indonesia Maju, Bukan Sekadar Kewajiban
Danantara Gelontorkan Rp1,5 Triliun Untuk Serap Gula Petani, Bapanas Ingatkan Soal Larangan Jual Di Bawah HAP
Mahfud MD Sindir Noel Ebenezer Yang Dulu Koar-Koar Koruptor Dihukum Mati, Kini Justru Tersandung Kasus
Penipuan Modus Kasihan di Parigi Moutong, Disebut Berulang Kali Lakukan Aksi
Kakek Tua Terlempar Saat Tebang Kelapa, Video Viral Hebohkan Warganet
DPR RI Berduka, Janji Kawal Keadilan Pasca Wafatnya Affan Kurniawan