CALGARY,METROSELEBES.COM-Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan komitmennya untuk menekankan pentingnya pakta pertahanan AUKUS dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik dalam pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (17/6), di sela-sela KTT G7 di Calgary, Kanada. Seperti dikutip dari Reuters pada Senin (16/06/2025).
Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah dan Pertemuan The Fed Bayangi Pasar, S&P 500 Futures Menguat Tipis
Dalam pernyataannya kepada media, Albanese menegaskan bahwa peningkatan jumlah kapal selam bertenaga nuklir yang dioperasikan oleh Australia, Inggris, dan Amerika Serikat akan memperkuat keamanan kawasan Indo-Pasifik dan sejalan dengan kepentingan strategis Amerika Serikat. Australia sendiri akan mengoperasikan kapal selam nuklir tersebut dengan persenjataan konvensional.
“Memiliki ketiga negara—Australia, Inggris, dan Amerika Serikat—dengan armada kapal selam bertenaga nuklir yang lebih besar, akan memberikan jaminan keamanan yang lebih kuat di kawasan Indo-Pasifik,” ujar Albanese. “Ini adalah kepentingan langsung Amerika Serikat.”
Baca Juga: Trump Setujui Akuisisi US Steel, Saham Nippon Steel Melonjak dan Cetak Rencana Investasi Jumbo
Pertemuan dengan Presiden Trump menjadi sorotan penting, terlebih karena adanya peninjauan mendadak dari Washington terhadap ketentuan transfer kapal selam AUKUS ke Australia, serta tarif perdagangan Amerika yang memengaruhi ekspor baja dan aluminium Australia—yang mencakup sekitar 10% dari total ekspor komoditas tersebut.
Albanese berencana menekankan kontribusi finansial Australia terhadap kapasitas industri AS dalam membangun kapal selam baru, serta akses yang diperoleh armada kapal selam AS terhadap fasilitas pemeliharaan di Australia. Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran militer AS di Darwin sebagai bagian dari kerja sama strategis yang telah berjalan lama.
Baca Juga: Nissan Siap Kurangi Kepemilikan Saham di Renault, Fokus Kembangkan Kendaraan Baru
Namun, Albanese menolak permintaan AS untuk menaikkan anggaran pertahanan Australia dari 2% menjadi 3,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan menegaskan bahwa Australia akan mengeluarkan dana sesuai kebutuhan untuk menjamin kemampuan pertahanannya.
Di luar isu AUKUS, Albanese juga menyatakan akan mengangkat persoalan tarif tinggi yang diberlakukan oleh AS terhadap baja dan aluminium Australia. “Ekspor kami tetap masuk ke AS, hanya saja mereka sekarang membayar lebih mahal. Ini tindakan yang kami pandang sebagai bentuk kerugian ekonomi sepihak,” katanya.
Baca Juga: Paris Airshow 2025 Dibuka di Tengah Duka Kecelakaan di India dan Ketegangan Timur Tengah
Artikel Terkait
Amazon Gelontorkan Rp210 Triliun untuk Perkuat Infrastruktur Data Center dan AI di Australia
Meta Blokir Ribuan Konten Judol, Puan: Kolaborasi Digital Kunci Bersihkan Dunia Maya
Luka Kecil Bisa Jadi Jalan Masuk HIV, Ini Bahayanya yang Sering Diabaikan
Presiden Prabowo Ambil Alih Sengketa 4 Pulau Antara Aceh dan Sumut, Keputusan Akan Diambil Pekan Depan
Yusril Beberkan Alasan Hambali Tak Diizinkan Kembali ke Indonesia Usai Bebas dari Penjara Guantanamo
Paris Airshow 2025 Dibuka di Tengah Duka Kecelakaan di India dan Ketegangan Timur Tengah
Rusia Serang Kilang Minyak Kremenchuk, Ukraina Kecam Serangan Brutal terhadap Infrastruktur Energi
Nissan Siap Kurangi Kepemilikan Saham di Renault, Fokus Kembangkan Kendaraan Baru
Trump Setujui Akuisisi US Steel, Saham Nippon Steel Melonjak dan Cetak Rencana Investasi Jumbo
Ketegangan Timur Tengah dan Pertemuan The Fed Bayangi Pasar, S&P 500 Futures Menguat Tipis