NEW YORK,METROSELEBES.COM-Indeks futures saham Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan Senin pagi, ditopang oleh penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran pasar di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Israel serta menjelang keputusan penting dari Federal Reserve (The Fed) minggu ini. Seperti dikutip dari Reuters pada Senin (16/06/2025).
Baca Juga: Trump Setujui Akuisisi US Steel, Saham Nippon Steel Melonjak dan Cetak Rencana Investasi Jumbo
Kontrak futures S&P 500 naik 0,4%, sementara Nasdaq 100 dan Dow Jones masing-masing menguat 0,46% dan 0,34% pada pukul 05:38 waktu ET (09:38 GMT). Kenaikan ini terjadi setelah Wall Street mencatat pelemahan lebih dari 1% pada Jumat lalu, akibat lonjakan harga minyak sebesar 7% menyusul serangan udara yang saling dilancarkan oleh Israel dan Iran.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian utama dalam pertemuan para pemimpin negara-negara G7 di Kanada. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan harapan agar solusi damai dapat dicapai, meski hingga hari keempat konflik, belum ada tanda-tanda meredanya eskalasi.
Baca Juga: Nissan Siap Kurangi Kepemilikan Saham di Renault, Fokus Kembangkan Kendaraan Baru
Sementara itu, harga minyak mentah mulai sedikit terkoreksi dari level tertingginya sejak Januari, memberi sedikit angin segar bagi investor yang khawatir akan kembalinya tekanan inflasi. Namun, lonjakan harga energi tetap menjadi perhatian menjelang keputusan suku bunga The Fed pada Rabu nanti.
Para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan, tetapi perhatian akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell serta proyeksi terbaru bank sentral mengenai arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi.
Baca Juga: Rusia Serang Kilang Minyak Kremenchuk, Ukraina Kecam Serangan Brutal terhadap Infrastruktur Energi
Data dari CME Group's FedWatch Tool menunjukkan bahwa pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 48 basis poin hingga akhir 2025, dengan peluang sebesar 55% untuk pemangkasan 25 bps pada September.
Dalam catatan analis Barclays, disebutkan bahwa kondisi ekonomi saat ini mulai menunjukkan pola stagflasi, dengan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan PDB yang melemah pada 2025 akibat kebijakan tarif yang diumumkan pada April lalu. Barclays juga memperkirakan proyeksi suku bunga (dot plot) akan menunjukkan hanya satu kali pemangkasan tahun ini dan tiga kali pemangkasan pada 2026.
Baca Juga: Paris Airshow 2025 Dibuka di Tengah Duka Kecelakaan di India dan Ketegangan Timur Tengah
Artikel Terkait
Polemik Empat Pulau: Batas Wilayah Menguji Ketegasan Negara
Amazon Gelontorkan Rp210 Triliun untuk Perkuat Infrastruktur Data Center dan AI di Australia
Meta Blokir Ribuan Konten Judol, Puan: Kolaborasi Digital Kunci Bersihkan Dunia Maya
Luka Kecil Bisa Jadi Jalan Masuk HIV, Ini Bahayanya yang Sering Diabaikan
Presiden Prabowo Ambil Alih Sengketa 4 Pulau Antara Aceh dan Sumut, Keputusan Akan Diambil Pekan Depan
Yusril Beberkan Alasan Hambali Tak Diizinkan Kembali ke Indonesia Usai Bebas dari Penjara Guantanamo
Paris Airshow 2025 Dibuka di Tengah Duka Kecelakaan di India dan Ketegangan Timur Tengah
Rusia Serang Kilang Minyak Kremenchuk, Ukraina Kecam Serangan Brutal terhadap Infrastruktur Energi
Nissan Siap Kurangi Kepemilikan Saham di Renault, Fokus Kembangkan Kendaraan Baru
Trump Setujui Akuisisi US Steel, Saham Nippon Steel Melonjak dan Cetak Rencana Investasi Jumbo