Namun, sejumlah pengamat menilai bahwa kesepakatan yang terlalu “longgar” terhadap AS bisa berdampak negatif pada kemandirian sektor hilirisasi Indonesia yang tengah digencarkan.
Artikel serupa sebelumnya juga menyebutkan bahwa Prabowo dalam lawatan internasionalnya menegaskan pentingnya diplomasi ekonomi strategis, namun tidak menyebutkan rincian soal pembebasan tarif oleh AS.
Ini menambah spekulasi bahwa kesepakatan ini dibuat dalam kerangka hubungan bilateral yang lebih besar.
Dengan akses penuh ke Indonesia yang kini dimiliki AS, muncul harapan bahwa Indonesia tetap bisa menjaga kendali atas pengelolaan sumber daya alamnya, sambil memastikan bahwa hasil kesepakatan memberikan manfaat nyata bagi rakyat dan ekonomi nasional.***
Artikel Terkait
Rudal Al Qassam, Tank Israel Rontok di Beit Lahia
RPJMD Provinsi Sulteng Segera Disahkan, Gubernur Anwar Hafid Pastikan Telah Sinkron Dengan RPJMN
Tolak Pemecahan Suriah, Tokoh Druze: Kami Bersama Negara yang Menjaga Martabat dan Hak Kami
Serangan Udara Mengguncang Jantung Komando Militer Suriah di Damaskus
IEU-CEPA Disepakati, Prabowo Kukuhkan Posisi Tawar RI di Eropa
Kopdes Diperkuat, Pelatihan SDM & Kelembagaan Jadi Langkah Strategis Pemerintah
DPR Dorong RUU Guru dan Dosen, Pengabdian di 3T Akan Diapresiasi Setara
PMK Siap Terbit, Kopdes Merah Putih Segera Dapat Suntikan Dana dari Bank Nasional
Payung Hukum Baru: PMK Siap Dukung Pembiayaan Kopdes Merah Putih dari Bank Himbara
Empat Jurus Mentan Amran Dongkrak Produksi Tebu Nasional, Targetkan Swasembada Gula