Tolak Pemecahan Suriah, Tokoh Druze: Kami Bersama Negara yang Menjaga Martabat dan Hak Kami

photo author
Abdul Rifai, Metro Selebes
- Rabu, 16 Juli 2025 | 20:50 WIB
Dalam wawancara eksklusif bersama Al Jazeera, salah satu Tokoh Druze terkemuka dari komunitas Druze, Sheikh Hikmat al-Hijri, menyatakan penolakannya terhadap semua proyek asing yang berusaha memecah belah wilayah Suriah. (Screnshoot youtube al-jazerah)
Dalam wawancara eksklusif bersama Al Jazeera, salah satu Tokoh Druze terkemuka dari komunitas Druze, Sheikh Hikmat al-Hijri, menyatakan penolakannya terhadap semua proyek asing yang berusaha memecah belah wilayah Suriah. (Screnshoot youtube al-jazerah)

 

DAMASKUS, METROSELEBES.COM – Dalam wawancara eksklusif bersama Al Jazeera, salah satu Tokoh Druze terkemuka dari komunitas Druze, Sheikh Hikmat al-Hijri, menyatakan penolakannya terhadap semua proyek asing yang berusaha memecah belah wilayah Suriah.

Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah Suweida, yang terletak di selatan Suriah, dekat perbatasan Yordania dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Dalam cuplikan tayangan tersebut, Sheikh al-Hijri mengatakan, "Kami berdiri bersama negara yang menjaga hak dan martabat kami.

Baca Juga: Rudal Al Qassam, Tank Israel Rontok di Beit Lahia

Kami tidak menerima fragmentasi ataupun pembagian wilayah." Pernyataan tersebut menjadi sikap tegas komunitas Druze terhadap isu pemecahan wilayah, yang belakangan kembali mencuat menyusul berbagai intervensi asing di Suriah.

Suweida, yang mayoritas penduduknya merupakan penganut Druze, selama ini dikenal relatif stabil dibandingkan wilayah lain di Suriah.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, laporan menunjukkan peningkatan tekanan eksternal terhadap kawasan ini yang diduga berkaitan dengan agenda geopolitik dan kepentingan Israel.

Baca Juga: Serangan Balik Gaza Tewaskan Tentara Israel, 3 Lainnya Luka Parah

Dalam tayangan Al Jazeera, disebutkan pula bahwa kelompok Druze menolak proyek-proyek eksternal yang mengarah pada disintegrasi Suriah dan menyerukan solusi nasional yang mempertahankan integritas wilayah negara tersebut.

Mereka menginginkan partisipasi dalam proses politik yang adil, namun tetap dalam kerangka kesatuan negara.

Pernyataan ini mendapat sorotan luas, terutama di media Arab, karena muncul di tengah diskursus soal Israel dan pengaruhnya di wilayah Dataran Tinggi Golan yang secara hukum internasional masih dianggap bagian dari Suriah, namun telah dicaplok oleh Israel sejak 1967.

Baca Juga: Serangan Mendadak di Khan Younis: Saraya Al-Quds Klaim Hantam Tentara dan Kendaraan Israel

Komunitas internasional, termasuk PBB, telah berulang kali menyuarakan dukungan terhadap integritas wilayah Suriah, meskipun berbagai kepentingan asing terus bermain di kawasan tersebut, terutama dalam konteks sumber daya, posisi strategis, dan konflik regional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Rifai

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X