Iran Goyah: Penasihat Militer Khamenei Gugur, Ancaman Salah Langkah Membayangi

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Selasa, 17 Juni 2025 | 18:00 WIB
Serangan udara Israel menewaskan sejumlah tokoh penting Garda Revolusi Iran, meninggalkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam kesepian strategis. Kehilangan penasihat inti ini memicu kekhawatiran akan salah langkah di tengah memuncaknya konflik regional dan krisis dalam negeri
Serangan udara Israel menewaskan sejumlah tokoh penting Garda Revolusi Iran, meninggalkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam kesepian strategis. Kehilangan penasihat inti ini memicu kekhawatiran akan salah langkah di tengah memuncaknya konflik regional dan krisis dalam negeri

“Dia bukan hanya perantara, tapi pengarah strategi. Pengaruhnya kini semakin nyata,” ungkap salah satu sumber.

 

Tokoh penting lain yang masih bertahan dalam struktur kekuasaan Khamenei antara lain Ali Asghar Hejazi (wakil urusan keamanan politik), Kepala Kantor Khamenei Mohammad Golpayegani, serta mantan Menlu Ali Akbar Velayati dan Kamal Kharazi, juga mantan Ketua Parlemen Ali Larijani.

Baca Juga: Di Tengah Ketegangan dengan Israel, Iran Siapkan RUU Tinggalkan Perjanjian Nuklir

Namun begitu, kehilangan komando utama Garda Revolusi menjadi pukulan telak. Sejak menjabat sebagai pemimpin tertinggi pada 1989, Khamenei telah menjadikan IRGC sebagai alat utama kekuasaan—baik untuk menjaga keamanan dalam negeri maupun menyusun kebijakan luar negeri, terutama dalam mengelola konflik kawasan.

 

Isolasi Strategis di Tengah Ketegangan Regional. Konflik terbaru dengan Israel telah memuncak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Israel melancarkan serangan ke berbagai situs militer dan nuklir Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal. Ketegangan ini memperbesar kemungkinan eskalasi perang terbuka di Timur Tengah.

Baca Juga: Putin dan Erdogan Kutuk Serangan Israel ke Iran, Desak Gencatan Senjata Segera

Selain itu, poros “Perlawanan” yang selama ini menjadi jaringan aliansi Iran di kawasan juga terpukul. Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah—sekutu dekat Khamenei—tewas dalam serangan Israel pada September tahun lalu. Sementara Presiden Suriah Bashar al-Assad, juga sekutu utama Iran, digulingkan oleh pemberontak pada Desember.

 

Tekanan dari luar diperparah oleh situasi dalam negeri. Aksi protes besar-besaran yang terjadi pada 1999, 2009, dan 2022 berhasil diredam dengan kekuatan militer, namun dampak sanksi ekonomi Barat telah menciptakan penderitaan luas di dalam negeri. Para analis memperingatkan, jika kondisi ekonomi terus memburuk, ketidakpuasan publik bisa berujung pada gejolak besar.

Baca Juga: PM Australia Desak Komitmen AUKUS dan Stabilitas Indo-Pasifik di Hadapan Trump

Kesimpulan: Iran di Titik Genting.Di tengah tantangan dari luar dan dalam, serta kehilangan tokoh-tokoh pentingnya, Khamenei menghadapi masa paling genting dalam sejarah Republik Islam. Struktur kekuasaan yang selama ini ia bangun dengan cermat kini goyah, memunculkan risiko kesalahan strategis yang bisa berdampak luas, baik bagi Iran maupun stabilitas kawasan.

 

Satu hal yang tetap menjadi kompas utama Khamenei adalah kelangsungan rezim. Dan untuk itu, ia harus menavigasi badai geopolitik terbesar dalam hidupnya—dengan tangan yang kini lebih sepi dari biasanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X