Tekanan Deflasi Makin Dalam, Ekonomi China Tertekan Perang Dagang dan Krisis Properti

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Senin, 9 Juni 2025 | 19:53 WIB
Orang-orang berbelanja di Gedung Komersial Fuyoumen di Shanghai, Tiongkok, pada 16 April 2025. Source FOTO: REUTERS
Orang-orang berbelanja di Gedung Komersial Fuyoumen di Shanghai, Tiongkok, pada 16 April 2025. Source FOTO: REUTERS

BEIJING,METROSELEBES.COM-Tekanan deflasi di tingkat produsen China kian memburuk pada Mei 2025, mencatatkan penurunan harga terbesar dalam hampir dua tahun terakhir. Di tengah tantangan berat seperti konflik dagang dengan Amerika Serikat dan kemerosotan pasar properti, prospek ekonomi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini semakin tertekan. Seperti dikutip dari Reuters pada Senin, (09/06/2025).

Baca Juga: Kapal Induk China Liaoning Lintasi Timur Iwo Jima, Jepang Tingkatkan Pengawasan

Data dari Biro Statistik Nasional China pada Senin (9/6) menunjukkan bahwa Indeks Harga Produsen (PPI) turun sebesar 3,3% dibandingkan Mei tahun lalu — penurunan terdalam sejak Juli 2023 dan lebih besar dari penurunan 2,7% pada April. Angka ini juga melampaui ekspektasi penurunan 3,2% dalam jajak pendapat Reuters.

 

"China terus menghadapi tekanan deflasi yang persisten," ujar Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom di Pinpoint Asset Management. Ia menyoroti bahwa perang harga di sektor otomotif menunjukkan kompetisi yang semakin ketat dan mendorong harga turun. "Saya juga mengkhawatirkan harga properti yang kembali melemah setelah sempat stabil."

Baca Juga: Pengadilan Tunda Sidang Pelanggaran Hukum Pemilu Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung Tanpa Batas Waktu

Kekhawatiran konsumen terhadap ketidakpastian pendapatan menyebabkan belanja rumah tangga tertahan, mendorong banyak perusahaan untuk memberikan diskon besar demi menjaga penjualan. Pemerintah pun menyerukan agar industri otomotif menghentikan perang harga yang semakin memukul sektor tersebut.

 

Aktivitas pabrik yang melambat turut mencerminkan dampak dari tarif impor AS, yang menghantam posisi China sebagai pusat manufaktur global. Sementara itu, sektor jasa yang sebelumnya menunjukkan pertumbuhan mulai melambat karena ketidakpastian hasil perundingan dagang AS-China yang dijadwalkan berlanjut di London hari ini.

Baca Juga: Inovasi Hilirisasi Pertanian: Kunci Indonesia Jadi Superpower Pangan Dunia

Dalam perbincangan via telepon pada Kamis lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membahas ketegangan perdagangan dan isu mineral kritis, namun banyak persoalan penting belum terselesaikan.

 

Sementara itu, di sisi konsumen, Indeks Harga Konsumen (CPI) juga turun 0,1% secara tahunan pada Mei — penurunan yang sama seperti bulan sebelumnya, meskipun sedikit lebih baik dari proyeksi penurunan 0,2% oleh ekonom.

Baca Juga: Titik Balik Penanggulangan Kemiskinan: Strategi Baru Pemerintah Menyasar Kantong Kemiskinan Terisolasi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X