Namun secara bulanan, CPI mengalami penurunan 0,2% setelah naik 0,1% pada April, sesuai dengan prediksi para ekonom. Perlambatan konsumsi ritel dan stagnasi harga rumah baru menjadi cerminan lemahnya permintaan domestik, meskipun pemerintah telah menggulirkan berbagai kebijakan stimulus dalam beberapa bulan terakhir.
Satu-satunya titik terang datang dari inflasi inti — yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang bergejolak — yang naik tipis sebesar 0,6% secara tahunan, naik dari 0,5% pada April. Namun menurut Zichun Huang, Ekonom China di Capital Economics, angka ini masih rapuh.
Baca Juga: Visa Aktif Tapi Dideportasi: Ironi Calon Haji Indonesia di Tanah Suci
"Kami masih memperkirakan kelebihan kapasitas produksi yang terus berlangsung akan menahan China dalam situasi deflasi baik tahun ini maupun tahun depan," ujar Huang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi China belum keluar dari tekanan, dengan tantangan domestik dan eksternal yang masih membayangi dan menuntut respons kebijakan yang lebih agresif dari pemerintah Beijing.
Artikel Terkait
Langkah Hijau Menhan: Misi Biodiesel Sawit untuk Ketahanan Energi Dimulai dari Papua Selatan
Visa Aktif Tapi Dideportasi: Ironi Calon Haji Indonesia di Tanah Suci
Dua Arah Bintang Lapangan: Takefusa Kubo dan Ole Romeny, Wajah Baru Sepak Bola Asia dan Indonesia
Lonjakan Perkebunan Dongkrak Pertumbuhan Pertanian Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir
BSU 2025 Resmi Bergulir! Harapan Baru Pekerja Lewat Permenaker Terbaru
Koperasi Desa Merah Putih: Solusi Ekonomi Rakyat yang Tumbuh dari Akar Desa
Titik Balik Penanggulangan Kemiskinan: Strategi Baru Pemerintah Menyasar Kantong Kemiskinan Terisolasi
Inovasi Hilirisasi Pertanian: Kunci Indonesia Jadi Superpower Pangan Dunia"
Pengadilan Tunda Sidang Pelanggaran Hukum Pemilu Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung Tanpa Batas Waktu
Kapal Induk China Liaoning Lintasi Timur Iwo Jima, Jepang Tingkatkan Pengawasan