Kekalahan Telak di Pilpres, Partai Konservatif Korsel Desak Reformasi Total

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 6 Juni 2025 | 19:07 WIB
Pemimpin fraksi Partai Kekuatan Rakyat yang berkuasa di Korea Selatan, Kweon Seong-dong, duduk selama pemungutan suara pemakzulan dalam sesi pleno terhadap Presiden sementara sekaligus Perdana Menteri Korea Selatan, Han Duck-soo. Source FOTO: REUTERS
Pemimpin fraksi Partai Kekuatan Rakyat yang berkuasa di Korea Selatan, Kweon Seong-dong, duduk selama pemungutan suara pemakzulan dalam sesi pleno terhadap Presiden sementara sekaligus Perdana Menteri Korea Selatan, Han Duck-soo. Source FOTO: REUTERS

SEOUL,METROSELEBES.COM-Setelah mengalami kekalahan telak dalam pemilihan presiden mendadak pekan ini, kubu konservatif Korea Selatan mulai menggulirkan wacana pembaruan total demi menyelamatkan masa depan politik mereka. Partai Kekuatan Rakyat (People Power Party/PPP), yang sebelumnya berkuasa, kini tercerai-berai usai kehilangan kursi presiden dan dominasi parlemen. Seperti dikutip dari Reuters pada Jumat, (06/06/2025).

 

Kemenangan mutlak diraih Lee Jae-myung dari Partai Demokrat, yang kini mengendalikan baik eksekutif maupun legislatif. Hasil pemungutan suara menunjukkan Lee meraih 49,42% suara, mengalahkan kandidat PPP Kim Moon-soo yang hanya memperoleh 41,15%. Sementara itu, Lee Jun-seok dari Partai Reformasi Konservatif mengantongi 8,34% suara, diduga menjadi penyebab terpecahnya suara kubu kanan.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi NTB Minus, Mendagri Warning Risiko Stabilitas Nasional

Kekalahan ini semakin memperdalam krisis internal PPP yang sebelumnya gagal meredam konflik dan menyatukan dukungan terhadap satu kandidat tunggal. Kegagalan ini diperparah oleh warisan kontroversial mantan Presiden Yoon Suk Yeol, yang dimakzulkan setelah upaya deklarasi darurat militer pada Desember lalu, yang secara luas dinilai inkonstitusional dan memicu kemarahan publik.

 

Pemimpin Mundur, Seruan Bersihkan Partai. Sebagai bentuk tanggung jawab, Kweon Seong-dong, pemimpin fraksi PPP di parlemen, mengundurkan diri pada Kamis (5/6) dan menyerukan pembenahan menyeluruh partai. "Kekalahan ini bukan semata akibat darurat militer atau pemakzulan presiden. Ini adalah teguran keras terhadap perpecahan internal kami," ujar Kweon.

Baca Juga: Garuda Mengudara: Indonesia Tembus Round 4 Kualifikasi Piala Dunia Usai Tumbangkan China

Kim Moon-soo, kandidat presiden PPP, juga menyampaikan permintaan maaf terbuka dan menyalahkan perpecahan selama proses pencalonan. Ia bahkan sempat berseteru dengan Han Duck-soo—yang saat itu menjabat sebagai Presiden sementara—karena Han memutuskan maju dalam pilpres meski partai telah menetapkan Kim sebagai calon resmi.

 

"Kami memilih kandidat dalam cara yang bahkan anak kecil pun tahu tidak masuk akal. Sudah saatnya introspeksi dan reformasi mendalam," ucap Kim, sambil berlutut di hadapan publik.

 

Kekuatan Konservatif Terpecah. Sementara itu, Lee Jun-seok, tokoh muda kontroversial yang pernah memimpin PPP, mengkritik partai karena terlalu fokus menyatukan kandidat daripada mendorong reformasi substansial. "Tantangan bagi kelompok konservatif adalah membangun kembali kepercayaan publik melalui perubahan nyata," katanya.

Baca Juga: Fadli Zon Resmi Pimpin Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X