WASHINGTON/BEIJING,METROSELEBES.COM-Dalam sebuah percakapan langka yang berlangsung lebih dari satu jam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat untuk melanjutkan pembicaraan lanjutan guna meredakan ketegangan perdagangan yang kian memanas serta sengketa terkait ekspor mineral langka. Seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (05/06/2025).
Baca Juga: ECB Kembali Pangkas Suku Bunga, Sinyal Perubahan Arah Kebijakan di Tengah Ketidakpastian Global
Percakapan langsung antara dua pemimpin negara adidaya ini terjadi pada Kamis (waktu setempat) dan menjadi sorotan global di tengah kekhawatiran meningkatnya perselisihan perdagangan, terutama terkait kebijakan ekspor mineral strategis oleh Tiongkok yang memicu kekhawatiran industri global, termasuk otomotif dan teknologi militer.
Menurut ringkasan resmi dari pemerintah Tiongkok, Xi Jinping meminta AS untuk menarik kebijakan perdagangan yang dianggap meresahkan perekonomian global dan memperingatkan Trump agar tidak mengambil langkah provokatif terkait Taiwan. Namun, Trump menilai percakapan itu "sangat positif" dan menyatakan di media sosial bahwa diskusi berfokus pada perdagangan serta menghasilkan kesepakatan untuk menggelar pembicaraan lanjutan di tingkat yang lebih rendah.
Baca Juga: Ukraina Kecam Eropa: Dana Beku Rusia Malah Dibagikan ke Investor Barat, Bukan untuk Korban Perang
"Kami dalam posisi yang sangat baik dengan Tiongkok terkait kesepakatan dagang," ujar Trump kepada wartawan usai panggilan tersebut.
Kedua pemimpin juga saling mengundang untuk berkunjung ke negara masing-masing, menandai upaya diplomatik untuk menjaga komunikasi tetap terbuka meski perbedaan tajam masih terlihat jelas.
Krisis "Rare Earth" dan Tarik Ulur Tarif. Percakapan ini berlangsung di tengah memburuknya hubungan akibat keputusan Tiongkok pada April lalu untuk menangguhkan ekspor sejumlah mineral dan magnet penting. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan strategis yang bisa melemahkan pertumbuhan ekonomi AS jika rantai pasok industri terganggu.
Sebelumnya, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata 90 hari pada 12 Mei lalu untuk mengurangi tarif perdagangan balasan yang dikenakan sejak Trump menjabat. Namun, kesepakatan itu dinilai rapuh karena belum menyentuh isu-isu krusial seperti perdagangan fentanyl ilegal, status Taiwan, dan keluhan AS terhadap dominasi negara dalam perekonomian Tiongkok.
Baca Juga: Pengadilan Inggris Tolak Banding Taipan Rusia Ziyavudin Magomedov dalam Kasus Transneft
Artikel Terkait
Indonesia dan Prancis Teken Deklarasi Kolaborasi Pertanian Masa Depan
Pengadilan Inggris Tolak Banding Taipan Rusia Ziyavudin Magomedov dalam Kasus Transneft
10 Desa Tangguh Jadi Garda Terdepan Perlindungan Pekerja Migran
UMKM Bangkit, Rakyat Mandiri: Perintis Berdaya Jadi Motor Baru Pengentasan Kemiskinan
Panen Prestasi di Perbatasan: Indonesia Ekspor Jagung Perdana ke Malaysia dari Bengkayang
India-AS Genjot Finalisasi Kesepakatan Tarif Interim Jelang Batas Waktu Trump
Ukraina Kecam Eropa: Dana Beku Rusia Malah Dibagikan ke Investor Barat, Bukan untuk Korban Perang
Jejak Nusantara di Liga Belanda: Ole Romeny, Sang Penyerang FC Utrecht Berdarah Medan
ECB Kembali Pangkas Suku Bunga, Sinyal Perubahan Arah Kebijakan di Tengah Ketidakpastian Global
Diduga Korupsi Dana Desa Ratusan Juta, Mantan Kades di Parigi Moutong Diciduk Polisi