MOSKOW,METROSELEBES.CONM-Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia, Maxim Reshetnikov, menyerukan kepada Bank Sentral Rusia untuk segera melonggarkan kebijakan moneter guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menegaskan pentingnya pemangkasan suku bunga acuan secara tepat waktu demi mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 3% yang telah ditetapkan oleh Presiden Vladimir Putin. Seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (03/06/2025).
Baca Juga: Produksi Golf Menurun, Apakah Empat Hari Kerja Cukup?
Pernyataan ini disampaikan Reshetnikov menjelang rapat dewan kebijakan moneter Bank Sentral Rusia yang dijadwalkan berlangsung pada 6 Juni mendatang. Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 26 ekonom, mayoritas memperkirakan suku bunga acuan akan tetap berada pada level tinggi, yaitu 21%.
Reshetnikov menekankan bahwa Rusia saat ini tengah memasuki periode perlambatan ekonomi dan membutuhkan dukungan kebijakan moneter agar tidak kehilangan momentum pemulihan. "Tugas utama saat ini adalah melewati masa pendinginan ini. Kami berharap pelonggaran kebijakan moneter dilakukan secara tepat waktu agar target pertumbuhan 3% yang dicanangkan presiden dapat tercapai," ujarnya.
Baca Juga: Target Energi Bersih 2030 Terancam, Siemens Desak Inggris Naikkan Kapasitas Lelang Angin Laut
Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap menurunnya aktivitas produksi di sejumlah sektor riil ekonomi. Selain itu, perlambatan kredit turut berdampak negatif terhadap permintaan produk teknik, peralatan khusus, angkutan barang, kendaraan komersial ringan, dan bus.
Meskipun ada tekanan kuat dari kalangan pelaku usaha untuk mulai memangkas suku bunga, Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina tetap berhati-hati. Ia bersikeras bahwa penurunan suku bunga hanya dapat dilakukan jika terdapat tren penurunan inflasi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Meta dan Energi Nuklir: Langkah Besar Teknologi Dunia yang Bisa Jadi Contoh untuk Indonesia
Sementara itu, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 2,5% untuk tahun ini. Namun para ekonom memperkirakan angka itu akan menurun menjadi 1,5% pada 2025, turun signifikan dari pertumbuhan 4,3% yang dicapai tahun lalu.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar AS
Dengan ketegangan antara kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kehati-hatian dalam mengendalikan inflasi, keputusan Bank Sentral dalam beberapa hari mendatang akan menjadi sorotan utama pasar dan pelaku industri.
Artikel Terkait
Pemilu atau Penghakiman? Rakyat Korea Selatan Menentukan Nasib Bangsa
PM Mongolia Mundur Usai Ditekan Demonstrasi dan Gagal Raih Dukungan Parlemen
Ekspor Minyak Venezuela Stabil di Tengah Sanksi AS, Kiriman ke China Meningkat
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar AS
Bantuan PKH Diperbarui, Ribuan Keluarga Tak Lagi Terima Dana Sosial
Kesepakatan Nuklir Baru AS-Iran Terancam Gagal Jika Celah Pengawasan IAEA Tak Ditutup
Meta dan Energi Nuklir: Langkah Besar Teknologi Dunia yang Bisa Jadi Contoh untuk Indonesia
Target Energi Bersih 2030 Terancam, Siemens Desak Inggris Naikkan Kapasitas Lelang Angin Laut
Quick Win Kesehatan: 7,4 Juta Warga Terlayani, 32 RSUD Siap Naik Kelas, dan Desa Siaga TBC Dimulai
Produksi Golf Menurun, Apakah Empat Hari Kerja Cukup?