LONDON,METROSELEBES.COM-Harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis pada Selasa (03/06/2025), didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya perang Rusia-Ukraina yang semakin intens, serta pelemahan nilai tukar dolar AS. Kondisi ini mendorong investor kembali memasukkan faktor risiko ke dalam harga minyak.
Baca Juga: Ekspor Minyak Venezuela Stabil di Tengah Sanksi AS, Kiriman ke China Meningkat
Perdagangan minyak dunia menunjukkan tren kenaikan setelah pada akhir pekan terjadi eskalasi besar dalam konflik Rusia-Ukraina. Serangan drone besar-besaran, ledakan di jembatan Rusia saat kereta penumpang melintas, serta serangan terhadap pesawat pembom berkemampuan nuklir di Siberia menjadi latar ketegangan terbaru.
Harga Naik Tipis, Namun Stabil. Harga minyak mentah Brent tercatat naik 45 sen atau 0,7% menjadi $65,08 per barel pada pukul 11:54 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 31 sen atau 0,5% menjadi $62,83 per barel.
Kenaikan harga ini juga ditopang keputusan OPEC+ yang mempertahankan rencana kenaikan produksi sebesar 411.000 barel per hari untuk bulan Juli — sesuai dengan kebijakan sebelumnya dan tidak sebesar yang dikhawatirkan sebagian pelaku pasar.
Baca Juga: PM Mongolia Mundur Usai Ditekan Demonstrasi dan Gagal Raih Dukungan Parlemen
Ketegangan AS-Iran dan Ancaman Sanksi Baru. Selain konflik di Eropa Timur, perhatian pasar juga tertuju pada dinamika perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Seorang diplomat Iran menyebut Teheran akan menolak proposal terbaru AS karena dianggap tidak memenuhi kepentingan nasional, terutama terkait pengayaan uranium.
Gagalnya pembicaraan ini dapat memperpanjang sanksi terhadap Iran, salah satu produsen minyak utama dunia, yang secara otomatis akan menekan pasokan global dan mendukung kenaikan harga minyak.
Baca Juga: Pemilu atau Penghakiman? Rakyat Korea Selatan Menentukan Nasib Bangsa
“Premi risiko kembali dimasukkan dalam harga minyak akibat serangan Ukraina terhadap Rusia akhir pekan lalu,” ujar Harry Tchilinguirian, analis dari Onyx Capital Group. “Namun yang lebih krusial untuk volume pasokan adalah tarik-ulur antara AS dan Iran terkait isu nuklir.”
Artikel Terkait
948 Pahlawan Birokrasi Baru: ASN Muda Siap Wujudkan Indonesia Berintegritas
Harvard Gugat Pemerintah AS, Desak Pencairan Dana Riset Nasional yang Dibekukan
Breaking News: Longsor Terjadi di Tambang Poboya, Satu Orang Tewas dan Satu Luka-Luka
Pemkot Palu Matangkan Persiapan Verifikasi Kota Layak Anak 2025
TAMASYA, Solusi Inovatif Tingkatkan Partisipasi Kerja Perempuan Lewat Pengasuhan Anak Ramah Keluarga”
Stok Beras Nasional Tembus 4 Juta Ton, Indonesia Dilirik Dunia sebagai Kekuatan Pangan Baru
Sembako Tersalur, Harapan Tertambat: Pemerintah Perketat Bantuan, Pastikan Tak Salah Sasaran
Pemilu atau Penghakiman? Rakyat Korea Selatan Menentukan Nasib Bangsa
PM Mongolia Mundur Usai Ditekan Demonstrasi dan Gagal Raih Dukungan Parlemen
Ekspor Minyak Venezuela Stabil di Tengah Sanksi AS, Kiriman ke China Meningkat