LA GUAIRA,METROSELEBES.COM-Ekspor minyak Venezuela tetap stabil pada bulan Mei meskipun tekanan sanksi dari Amerika Serikat meningkat. Data pelacakan kapal dan dokumen internal dari perusahaan negara Petróleos de Venezuela (PDVSA) menunjukkan bahwa peningkatan pengiriman ke China berhasil menutupi penurunan ekspor yang sebelumnya diizinkan ke pasar Amerika Serikat.
Baca Juga: PM Mongolia Mundur Usai Ditekan Demonstrasi dan Gagal Raih Dukungan Parlemen
Pada Maret lalu, Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri AS mencabut izin ekspor minyak dari Venezuela yang sebelumnya diberikan kepada pelanggan dan mitra PDVSA. Perusahaan-perusahaan tersebut diberikan waktu hingga 27 Mei untuk menghentikan seluruh transaksi terkait. Akibatnya, pengiriman minyak ke pelanggan tradisional di AS dan Eropa menurun drastis.
Salah satu dampak langsung dari kebijakan ini adalah pembatalan beberapa pengiriman PDVSA ke mitra utamanya, Chevron, karena ketidakpastian pembayaran. Meski demikian, pengiriman melalui perantara ke China justru meningkat, menjadikan negara Asia tersebut sebagai tujuan utama ekspor minyak Venezuela bulan lalu.
Baca Juga: Pemilu atau Penghakiman? Rakyat Korea Selatan Menentukan Nasib Bangsa
Tekanan dari AS terus meningkat sejak pemerintahan mantan Presiden Donald Trump memberlakukan sanksi energi pada 2019, yang mensyaratkan adanya izin resmi untuk perusahaan yang ingin berdagang minyak dengan Venezuela. Pemerintah Presiden Nicolás Maduro menolak keras sanksi tersebut, menyebutnya sebagai "perang ekonomi" terhadap negaranya.
Pada bulan Mei, tercatat sebanyak 30 kapal meninggalkan perairan Venezuela dengan membawa rata-rata 779.000 barel per hari (bph) minyak mentah dan produk olahan, serta 291.000 metrik ton produk turunan dan petrokimia. Angka ini hanya sedikit turun dibandingkan April yang mencatat 783.000 bph, dan tetap stabil dibanding rata-rata bulanan sebelumnya yang berada di kisaran 850.000–900.000 bph.
China mencatatkan lonjakan penerimaan minyak Venezuela menjadi sekitar 584.000 bph pada Mei, naik dari 521.000 bph pada April. Sebaliknya, pengiriman ke AS berada di angka sekitar 140.000 bph, sedikit meningkat dari bulan sebelumnya.
Baca Juga: Sembako Tersalur, Harapan Tertambat: Pemerintah Perketat Bantuan, Pastikan Tak Salah Sasaran
Sementara itu, PDVSA tidak mengirimkan kargo ke Chevron maupun Reliance Industries dari India selama bulan Mei. Namun, satu kesepakatan besar pertukaran minyak dengan mitra usaha patungan Maurel & Prom serta perusahaan perdagangan Vitol berhasil diselesaikan, menandai transaksi terakhir yang masih diizinkan AS sebelum batas waktu lisensi berakhir.
Artikel Terkait
JMSI Sulteng Kecam Ucapan Pelecehan Wartawan Oleh Kadis Pendidikan Sigi
948 Pahlawan Birokrasi Baru: ASN Muda Siap Wujudkan Indonesia Berintegritas
Harvard Gugat Pemerintah AS, Desak Pencairan Dana Riset Nasional yang Dibekukan
Breaking News: Longsor Terjadi di Tambang Poboya, Satu Orang Tewas dan Satu Luka-Luka
Pemkot Palu Matangkan Persiapan Verifikasi Kota Layak Anak 2025
TAMASYA, Solusi Inovatif Tingkatkan Partisipasi Kerja Perempuan Lewat Pengasuhan Anak Ramah Keluarga”
Stok Beras Nasional Tembus 4 Juta Ton, Indonesia Dilirik Dunia sebagai Kekuatan Pangan Baru
Sembako Tersalur, Harapan Tertambat: Pemerintah Perketat Bantuan, Pastikan Tak Salah Sasaran
Pemilu atau Penghakiman? Rakyat Korea Selatan Menentukan Nasib Bangsa
PM Mongolia Mundur Usai Ditekan Demonstrasi dan Gagal Raih Dukungan Parlemen