Kesepakatan Nuklir Baru AS-Iran Terancam Gagal Jika Celah Pengawasan IAEA Tak Ditutup

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Selasa, 3 Juni 2025 | 20:34 WIB
Sebuah surat kabar Iran dengan foto sampul Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan utusan Timur Tengah AS Steve Witkoff terlihat di Teheran, Iran, pada 11 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS
Sebuah surat kabar Iran dengan foto sampul Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan utusan Timur Tengah AS Steve Witkoff terlihat di Teheran, Iran, pada 11 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS

 

VIENNA,METROSELEBES.COM-Kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Iran menghadapi tantangan besar, menyusul terungkapnya celah serius dalam pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terhadap fasilitas nuklir Iran. Salah satu insiden utama terjadi tahun lalu ketika truk-truk pembawa mesin sentrifugal canggih IR-6 masuk ke situs nuklir Fordow, yang terletak di dalam gunung di selatan Teheran. Meski Iran telah memberi tahu IAEA soal instalasi ratusan mesin baru, para inspektur tidak mengetahui asal usul peralatan tersebut.

Baca Juga: Bantuan PKH Diperbarui, Ribuan Keluarga Tak Lagi Terima Dana Sosial

Menurut seorang pejabat yang terlibat dalam pemantauan nuklir PBB, insiden ini mencerminkan lemahnya pengawasan IAEA sejak Presiden AS Donald Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015. Langkah tersebut menyebabkan Iran mencabut akses pengawasan tambahan yang sebelumnya diberikan.

 

Kini, celah dalam pengawasan itu mencakup ketidaktahuan atas jumlah sentrifugal yang dimiliki Iran, lokasi produksi dan penyimpanannya, serta hilangnya kemampuan untuk melakukan inspeksi mendadak di lokasi yang belum dinyatakan Iran. Laporan triwulan IAEA menunjukkan bahwa agensi tersebut tidak lagi memiliki “kelanjutan pengetahuan” tentang banyak aspek penting program nuklir Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar AS

Meski Amerika Serikat telah memulai kembali pembicaraan dengan Iran sejak April, sejumlah hambatan besar masih mengganjal. Salah satunya adalah penolakan Iran atas permintaan AS untuk menghentikan seluruh kegiatan pengayaan uranium dan mengekspor cadangan uranium tingkat tinggi ke luar negeri.

 

Menurut pejabat dan analis yang memahami program nuklir Iran, keberhasilan kesepakatan apa pun kini sangat bergantung pada pemulihan pengawasan ketat oleh IAEA. Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di lembaga think-tank International Crisis Group, mengatakan, “Ada celah dalam pemahaman kita tentang program nuklir Iran yang harus ditangani agar tercipta dasar pemahaman yang akurat soal skala dan cakupan saat ini.”

Baca Juga: Ekspor Minyak Venezuela Stabil di Tengah Sanksi AS, Kiriman ke China Meningkat

Laporan rahasia IAEA yang dirilis akhir pekan lalu mengungkap bahwa Iran kini memiliki cukup uranium yang diperkaya hingga tingkat 60% — mendekati kadar senjata — untuk membuat sembilan bom nuklir, jika dimurnikan lebih lanjut. Tak satu pun negara lain yang pernah memperkaya uranium hingga tingkat setinggi itu tanpa benar-benar memproduksi senjata nuklir.

 

Seorang pejabat Eropa menyatakan bahwa program pengayaan Iran kini sedemikian maju sehingga bahkan jika dihentikan sekalipun, mereka bisa memulainya kembali dalam hitungan bulan. Menurut laporan itu, sekitar tiga tahun lalu Iran memerintahkan pencabutan seluruh peralatan pengawasan tambahan yang dipasang berdasarkan perjanjian 2015, termasuk kamera-kamera pemantau di bengkel produksi sentrifugal.

Baca Juga: Ekspor Minyak Venezuela Stabil di Tengah Sanksi AS, Kiriman ke China Meningkat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X