Amnesty International dan Human Rights Watch telah berulang kali menyebut penggunaan bom berdaya ledak tinggi di kawasan padat penduduk sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional.
Pada Juni 2025, LSM Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan kekurangan pasokan medis di rumah sakit Gaza yang telah kolaps akibat blokade berkepanjangan.
Serangan kali ini juga membuat jaringan listrik dan air bersih di beberapa wilayah Gaza lumpuh total selama lebih dari 36 jam.
Baca Juga: Harga Beras Melonjak, Indag Sulteng Luncurkan Operasi Pasar dan Penyaluran Bantuan 224 Ribu Warga
Kini, 50 bom yang dijatuhkan pada malam sunyi Gaza bukan sekadar angka. Ia adalah suara luka, dan pertanyaan: sampai kapan dunia membiarkan langit Palestina terus memerah?***
Artikel Terkait
Jaguar Land Rover Tarik 21.000 Kendaraan di AS karena Masalah Airbag Penumpang
Kredit Jadi Pemacu Karier? Luna Maya dan Tora Bahas ‘Semangat Ngeredit’ yang Bikin Produktif
Chery Bantah Klaim Tak Sah dalam Subsidi Mobil Ramah Lingkungan di Tiongkok
Harga Beras Melonjak, Indag Sulteng Luncurkan Operasi Pasar dan Penyaluran Bantuan 224 Ribu Warga
Kamera Mundur Masih Bermasalah, Ribuan Polestar 2 Diperiksa Ulang oleh Regulator AS
SPHP Hadir Lagi! Program Beras Murah Resmi Negara Kembali Digulirkan hingga Akhir 2025
Perpres Baru Bikin Distribusi Pupuk Lancar, Petani Palembang Tersenyum Lega
GM Hentikan Produksi Truk Pikap di Pabrik Meksiko Selama Beberapa Pekan, Output Terpangkas
Google Bayar $2,4 Miliar untuk Teknologi AI Windsurf, Rekrut CEO dan Tim R&D
AS Desak Jepang dan Australia Tegaskan Sikap dalam Potensi Konflik Taiwan-China