Kenaikan harga minyak di pasar global akan mengerek harga bahan bakar, logistik, dan pangan. Inflasi melonjak, nilai tukar tertekan, dan beban APBN kian berat.
Bank Indonesia pun telah memberi sinyal waspada. Lonjakan harga minyak dunia akibat potensi konflik di Hormuz bisa meningkatkan tekanan terhadap rupiah dan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Amerika Serikat yang memiliki cadangan strategis pun hanya bisa bertahan sekitar 90 hari dalam skenario krisis energi. Jika pasokan global terganggu lebih lama, bahkan ekonomi sekuat AS bisa goyah.
Apalagi jika konflik merembet ke Laut Merah atau memukul negara produsen lain seperti Irak dan Kuwait.
Penutupan Selat Hormuz bukan hanya soal logistik. Ini adalah simbol dari keruntuhan kepercayaan pasar global.
Dunia telah dibuat panik hanya dengan ancaman penutupan. Harga minyak melonjak bahkan sebelum satu kapal pun dihentikan.
Jika Iran benar-benar menutup jalur ini atas nama kedaulatan atau sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan eksternal, maka dampaknya akan jauh melampaui kawasan. Gelombang krisis akan menjalar ke seluruh penjuru dunia. ***
Artikel Terkait
Akuisisi Raksasa: Mars Kantongi Restu AS untuk Caplok Kellanova, Eropa Mulai Selidiki Risiko Kenaikan Harga
Hakim AS Tolak Gugatan Penulis terhadap Meta dalam Kasus Pelanggaran Hak Cipta oleh AI
Kilmar Abrego Akan Diadili dan Dideportasi Lagi, Tapi Bukan ke El Salvador
Era Baru Ketegangan Global: Dari Asia Selatan hingga Timur Tengah, Dunia di Ambang Eskalasi Militer
The Fed Hawkish? Tiga Investasi Populer Ini Bisa Jadi Perdagangan Paling Menyakitkan di Pasar
AS Bantah Iran Sembunyikan Uranium Usai Serangan Udara, Hegseth Sebut Program Nuklir Iran Lumpuh Bertahun-tahun
Senat AS Gagalkan Upaya Batasi Langkah Militer Trump terhadap Iran
Dua Warga Negara China Dituduh Rekrut Anggota Militer AS untuk Mata-Mata
AS dan Sekutu Indo-Pasifik Luncurkan Langkah Strategis di Sektor Mineral
Kondisi Gaza Terkini Kian Memburuk, Sekitar 80-100 Warga Tewas Setiap Hari