DUBAI, METROSELEBES.COM – Di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat, dunia kini menatap penuh kecemasan ke sebuah titik sempit di peta yakni Selat Hormuz.
Dunia tahu bahwa senjata paling mematikan Iran bukan hanya rudal, bukan drone dan bukan pula senjata nuklir, tapi Selat Hormuz. Ya Selat Hormuz merupakan senjata Iran yang bisa melumpuhkan perekonomian global dalam hitungan hari jika Iran mengeluarkan kebijakan penutupan Selat Hormuz.
Baca Juga: Senat AS Gagalkan Upaya Batasi Langkah Militer Trump terhadap Iran
Selat strategis yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut Arab ini menjadi jalur vital bagi lebih dari 20% perdagangan minyak dunia.
Setiap hari, sekitar 17 juta barel minyak melewati jalur ini. Sekali saklar ini dimatikan, dunia akan kehilangan akses terhadap salah satu sumber energi utama dan paling sensitif di planet ini.
Beberapa kapal tanker kini dilaporkan mulai memperlambat laju mereka, bahkan ada yang memilih putar balik demi menghindari potensi konflik.
Pengiriman energi masih berjalan, namun berlangsung di bawah bayang-bayang ketegangan dan kekhawatiran global.
Tak semua negara memiliki ketahanan yang cukup untuk bertahan dalam situasi seperti ini. Jepang dan Korea Selatan menjadi yang paling rentan karena lebih dari 80% pasokan minyak kedua negara ini datang dari Teluk Persia, semuanya melewati Selat Hormuz.
India pun dalam posisi genting. Dengan 40% kebutuhan minyak dan lebih dari 60% impor gas alamnya tergantung pada jalur tersebut, negeri Bollywood hanya memiliki cadangan energi untuk sekitar 80 hari jika krisis benar-benar terjadi.
Cina memiliki cadangan strategis dan jalur darat lewat pipa Rusia. Namun tetap saja, lebih dari 40% minyak yang dikonsumsi negeri Tirai Bambu ini datang melalui jalur laut dari Teluk.
Untuk ekonomi sebesar Cina, sedikit gangguan bisa menciptakan badai ekonomi yang mengguncang kawasan.
Baca Juga: Trump Isyaratkan Pelonggaran Sanksi Minyak Iran Demi Pemulihan Ekonomi Teheran
Meski bukan pengimpor utama dari Hormuz, negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand tetap tak kebal.
Artikel Terkait
Akuisisi Raksasa: Mars Kantongi Restu AS untuk Caplok Kellanova, Eropa Mulai Selidiki Risiko Kenaikan Harga
Hakim AS Tolak Gugatan Penulis terhadap Meta dalam Kasus Pelanggaran Hak Cipta oleh AI
Kilmar Abrego Akan Diadili dan Dideportasi Lagi, Tapi Bukan ke El Salvador
Era Baru Ketegangan Global: Dari Asia Selatan hingga Timur Tengah, Dunia di Ambang Eskalasi Militer
The Fed Hawkish? Tiga Investasi Populer Ini Bisa Jadi Perdagangan Paling Menyakitkan di Pasar
AS Bantah Iran Sembunyikan Uranium Usai Serangan Udara, Hegseth Sebut Program Nuklir Iran Lumpuh Bertahun-tahun
Senat AS Gagalkan Upaya Batasi Langkah Militer Trump terhadap Iran
Dua Warga Negara China Dituduh Rekrut Anggota Militer AS untuk Mata-Mata
AS dan Sekutu Indo-Pasifik Luncurkan Langkah Strategis di Sektor Mineral
Kondisi Gaza Terkini Kian Memburuk, Sekitar 80-100 Warga Tewas Setiap Hari