Kembali menyoroti Tiongkok, Sechin mengungkapkan bahwa lonjakan penjualan kendaraan listrik telah menyebabkan perlambatan signifikan permintaan bahan bakar minyak dalam satu tahun terakhir. Jika tren ini berlanjut, maka akan berdampak besar terhadap keseimbangan pasar minyak global.
Sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan impor energi, Tiongkok juga tengah mengembangkan teknologi konversi batubara menjadi bahan bakar sintetis dan produk kimia. “Sekitar 40 juta ton batubara digunakan untuk produksi bahan bakar sintetis, dan lebih dari 260 juta ton untuk amonia serta metanol,” jelas Sechin.
Dengan arah kebijakan dan langkah agresif seperti ini, Tiongkok tampak siap mengguncang peta energi global dalam dekade mendatang.
Artikel Terkait
Langkah Cepat Swasembada: Prabowo Siapkan Indonesia Jadi Eksportir Beras dan Jagung
Sepupu Bashar al-Assad Ditangkap, Otoritas Baru Suriah Perketat Pembersihan Rezim Lama
Misi Evakuasi Sunyi: Diplomasi Senyap Selamatkan WNI dari Iran dan Israel
Komandan Senior Iran Tewas, Ketegangan Memuncak dalam Perang Udara Israel-Iran yang Berlangsung Lebih dari Seminggu
Sinergi Gizi Nasional: KSP Perkuat Aksi Cepat MBG di Daerah 3T
Akselerasi Terhambat, Zona B Tol Ciawi–Sukabumi Dikebut Rampung Agustus
Kolaborasi Hijau Sumbar: Komisi IV DPR RI Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Alam
Syarhei Tsikhanouski Dibebaskan dari Penjara, Tsikhanouskaya Desak Pembebasan Tahanan Politik Lainnya
Era Baru Diplomasi Global: Indonesia dan Rusia Resmikan Kemitraan Strategis Multidimensional
Ekowisata Khatulistiwa: Dusun Bambu Jadi Pusat Sinergi Pasar dan Alam