ST. PETERSBURG,METROSELEBES.COM-CEO Rosneft, Igor Sechin, menyatakan bahwa Tiongkok tengah menuju kemandirian energi secara penuh dan dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat menjadi eksportir energi utama dunia. Pernyataan tersebut disampaikan Sechin dalam pidatonya di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg pada Sabtu (21/06/2025).
Sechin, tokoh penting dalam industri energi Rusia dan kepala perusahaan migas raksasa Rosneft, menyoroti bahwa transformasi besar dalam konsumsi listrik global—khususnya di Asia dan Afrika—telah mengubah lanskap pasar energi dunia. “Revolusi digital dan pertumbuhan populasi di negara-negara berkembang memicu lonjakan besar permintaan energi,” ujar Sechin.
Menurutnya, Tiongkok saat ini menyumbang sepertiga dari total investasi energi global. Negara itu tengah mempercepat kapasitas energi terbarukan, dan telah menjadi salah satu pemimpin dunia dalam energi nuklir. “Tiongkok telah menjamin keamanannya di sektor energi dan kini bergerak dengan percaya diri menuju kemandirian total dengan menciptakan keseimbangan energi yang stabil berbasis sumber dayanya sendiri,” katanya.
Baca Juga: Kolaborasi Hijau Sumbar: Komisi IV DPR RI Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Alam
Sechin menegaskan bahwa dengan ketekunan dan profesionalisme yang konsisten, Tiongkok akan mencapai tujuan tersebut. “Tidak diragukan lagi, Tiongkok akan berubah dari pengimpor energi menjadi eksportir energi utama,” katanya.
Saat ini, Tiongkok merupakan pengimpor minyak mentah terbesar dunia dan juga pengimpor utama gas alam. Sebaliknya, Rusia adalah eksportir minyak terbesar kedua di dunia dan pemilik cadangan gas alam terbesar secara global. Rosneft sendiri bertanggung jawab atas sekitar 40% produksi minyak Rusia, 14% gas, dan 32% kapasitas kilang, serta merupakan eksportir minyak terbesar Rusia ke Tiongkok.
Dalam pidatonya yang mengutip mitologi Yunani dan filsuf Machiavelli, Sechin juga menyinggung keputusan OPEC+ untuk mempercepat peningkatan produksi minyak. Menurutnya, langkah itu kini terbukti bijak di tengah konflik antara Iran dan Israel. Ia menyebut OPEC+ berpotensi mempercepat peningkatan produksi hingga setahun lebih awal dari rencana awal.
Baca Juga: Sinergi Gizi Nasional: KSP Perkuat Aksi Cepat MBG di Daerah 3T
Sechin juga mengkritik utang publik besar Amerika Serikat, yang menurutnya mencerminkan pola kemunduran kekuatan besar seperti Spanyol Habsburg, Prancis pra-revolusi, Kekaisaran Ottoman, dan Inggris. Ia menyebut ekspansi industri militer negara-negara Barat sebagai penyimpangan sumber daya besar yang tidak menyelesaikan akar masalah ekonomi mereka.
Artikel Terkait
Langkah Cepat Swasembada: Prabowo Siapkan Indonesia Jadi Eksportir Beras dan Jagung
Sepupu Bashar al-Assad Ditangkap, Otoritas Baru Suriah Perketat Pembersihan Rezim Lama
Misi Evakuasi Sunyi: Diplomasi Senyap Selamatkan WNI dari Iran dan Israel
Komandan Senior Iran Tewas, Ketegangan Memuncak dalam Perang Udara Israel-Iran yang Berlangsung Lebih dari Seminggu
Sinergi Gizi Nasional: KSP Perkuat Aksi Cepat MBG di Daerah 3T
Akselerasi Terhambat, Zona B Tol Ciawi–Sukabumi Dikebut Rampung Agustus
Kolaborasi Hijau Sumbar: Komisi IV DPR RI Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Alam
Syarhei Tsikhanouski Dibebaskan dari Penjara, Tsikhanouskaya Desak Pembebasan Tahanan Politik Lainnya
Era Baru Diplomasi Global: Indonesia dan Rusia Resmikan Kemitraan Strategis Multidimensional
Ekowisata Khatulistiwa: Dusun Bambu Jadi Pusat Sinergi Pasar dan Alam