PHNOM PENH/BANGKOK,METROSELEBES.COM-Sebuah rekaman percakapan telepon pribadi antara Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra dan mantan pemimpin kuat Kamboja Hun Sen telah memicu gejolak diplomatik baru antara dua negara bertetangga yang kini berada di ambang konflik perbatasan. Seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (18/06/2025).
Hubungan Thailand dan Kamboja, yang sebelumnya cukup akrab, mendadak memburuk setelah bocoran percakapan tersebut beredar luas pada Rabu (18/6). Dalam rekaman bertanggal 15 Juni yang dikonfirmasi keasliannya oleh kedua tokoh, Perdana Menteri Paetongtarn menyampaikan kekhawatiran politik dalam negeri dan meminta Hun Sen untuk mengabaikan desakan dari tokoh militer Thailand yang disebutnya “tidak bermanfaat bagi negara.”
“Dia hanya ingin terlihat keren, mengatakan hal-hal yang tak ada gunanya bagi bangsa. Yang kami inginkan sebenarnya adalah perdamaian,” ujar Paetongtarn melalui seorang penerjemah dalam rekaman itu, merujuk pada salah satu jenderal militer Thailand yang bertugas di perbatasan.
Baca Juga: Sberbank Siap Luncurkan GigaChat Versi Terbaru dengan Kemampuan Berpikir Logis
Komentar tersebut dinilai semakin memperkeruh hubungan sipil-militer di Thailand dan memperlihatkan adanya perpecahan internal dalam pengambilan kebijakan luar negeri, khususnya dalam menangani krisis dengan Kamboja.
Paetongtarn kemudian menyatakan kepada media bahwa komunikasi tersebut merupakan bagian dari pendekatan diplomatik pribadi, namun kini ia menolak untuk kembali berbicara secara langsung dengan Hun Sen. “Ada masalah kepercayaan. Saya tidak akan lagi berbicara secara pribadi dengannya,” ujarnya.
Baca Juga: Villeroy Desak Uni Eropa Bentuk Komunitas AI dan Tetapkan Tenggat Waktu Demi Kedaulatan Finansial
Sementara itu, Hun Sen—yang masih memegang pengaruh besar di Kamboja meski telah menyerahkan jabatan perdana menteri kepada putranya, Hun Manet, pada 2023—mengatakan bahwa bocoran itu berasal dari salah satu dari 80 tokoh yang ia beri akses ke rekaman tersebut.
Ketegangan ini memperburuk situasi yang sudah memanas sejak bentrokan di wilayah perbatasan pada 28 Mei lalu yang menewaskan seorang tentara Kamboja. Kedua negara telah mengerahkan pasukan tambahan di sepanjang garis perbatasan sepanjang 820 kilometer yang masih belum sepenuhnya ditetapkan batasnya.
Artikel Terkait
Aliansi Hijau Indonesia-Singapura: Transfer Teknologi Pertanian Modern dan Penguatan Ketahanan Pangan
Tarik Ulur Bitcoin: Produsen Mesin Tambang Asal Tiongkok Bangun Pabrik di AS untuk Hindari Tarif Trump
Terobosan Gaji Hakim Muda: Prabowo Naikkan Hingga 280%, Fondasi Baru Keadilan Indonesia
Villeroy Desak Uni Eropa Bentuk Komunitas AI dan Tetapkan Tenggat Waktu Demi Kedaulatan Finansial
Kepala Sekolah Rakyat Terpilih Jalani Retret Pembekalan, Gus Ipul Tekankan Misi Hati Nurani
Panggilan Luhur Dokter Muda: Internsip Kemenkes 2025 Siap Cetak Tenaga Kesehatan Tangguh
Pemerintah Bangun Sekolah Modern di Malaysia Demi Anak-Anak Indonesia
Sberbank Siap Luncurkan GigaChat Versi Terbaru dengan Kemampuan Berpikir Logis
Maluku Rampungkan 100 Persen Kopdes Merah Putih, Wamenkop Targetkan Ekosistem Pala-Cengkeh dan Perikanan Bangkit Lewat Koperasi
Pertemuan Langka: Panglima Militer Pakistan Temui Trump di Gedung Putih Usai Ketegangan dengan India Mereda