WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Pemerintahan Presiden Donald Trump secara resmi melakukan peninjauan ulang terhadap pakta pertahanan trilateral AUKUS yang dibuat pada era Presiden Joe Biden, menurut seorang pejabat pertahanan AS kepada Reuters. Pakta bernilai ratusan miliar dolar ini memungkinkan Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir bersenjata konvensional, serta teknologi militer canggih lainnya. Seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (11/06/2025).
Baca Juga: Harga Konsumen AS Naik Moderat, Tapi Tarif Impor Ancam Lonjakan Inflasi di Paruh Kedua 2025
Peninjauan yang dipimpin Pentagon ini diperkirakan akan menimbulkan kekhawatiran di Canberra dan London. Australia memandang kapal selam tersebut sebagai elemen penting dalam menjaga pertahanannya di tengah meningkatnya ketegangan dengan Tiongkok, sementara Inggris telah menjadikan AUKUS sebagai inti dari ekspansi armada kapal selamnya di masa depan.
“Kami sedang meninjau AUKUS untuk memastikan bahwa inisiatif dari pemerintahan sebelumnya ini sejalan dengan agenda America First Presiden Trump,” ujar pejabat tersebut, mengonfirmasi laporan awal dari Financial Times. Ia menambahkan bahwa perubahan kebijakan terkait AUKUS akan disampaikan secara resmi jika diperlukan.
Baca Juga: Warner Bros Discovery Terbelah, Fitch Turunkan Peringkat Utang ke Status “Junk
AUKUS dibentuk pada 2021 oleh Amerika Serikat, Australia, dan Inggris sebagai respons terhadap meningkatnya kekuatan militer Tiongkok. Pakta ini mencakup rencana penjualan kapal selam kelas Virginia dari AS ke Australia mulai tahun 2032, serta pengembangan kapal selam generasi baru oleh Inggris dan Australia dengan bantuan teknis AS. Rotasi kapal selam AS dan Inggris dari pangkalan angkatan laut di Australia juga dijadwalkan dimulai pada 2027.
Namun, peninjauan ulang ini datang di tengah kritik dari tokoh-tokoh kebijakan senior Trump, termasuk Elbridge Colby, penasihat utama Pentagon. Dalam pernyataannya tahun lalu, Colby menyebut kapal selam AS sebagai aset strategis yang langka dan vital, terutama untuk menghadapi potensi konflik dengan Tiongkok di wilayah Rantai Pulau Pertama—zona strategis yang meliputi Jepang, Taiwan, Filipina, hingga Kalimantan.
“Pertanyaan saya, mengapa kita memberikan aset paling berharga ini justru saat kita paling membutuhkannya?” tegas Colby, menyebut kapal selam sebagai "mahkota permata" strategi militer AS.
Peninjauan ini diumumkan hanya beberapa jam setelah pemerintah Inggris mengumumkan investasi miliaran pound untuk meningkatkan kapasitas industri kapal selamnya, termasuk fasilitas BAE Systems di Barrow dan Rolls-Royce Submarines di Derby. Inggris berencana membangun hingga 12 kapal selam serang generasi berikutnya yang dikembangkan bersama mitra AUKUS.
Baca Juga: AS Tegaskan Tarif 55% untuk Tiongkok Tetap Berlaku Meski Kesepakatan Dagang Dicapai
Artikel Terkait
Tiga Pilar Kopdes Merah Putih dapat berjalan optimal
Dorong Percepatan pLPendirian Koperasi Merah Putih, DPD Kunjungi DPMD Jawa Barat
MPP Kini Menjangkau Pulau: Inovasi Baru Layanan Publik di BANGGAI LAUT
IMF dan Serbia Capai Kesepakatan Awal untuk Program Reformasi Ekonomi Selama 36 Bulan
Menkeu AS: RUU Pajak Partai Republik Akan Lindungi Kedaulatan Pajak Korporasi dari Campur Tangan Asing
China Batasi Ekspor Logam Tanah Jarang ke AS Selama Enam Bulan, Industri Otomotif Terancam
AS Tegaskan Tarif 55% untuk Tiongkok Tetap Berlaku Meski Kesepakatan Dagang Dicapai
Korea Selatan Hentikan Siaran Propaganda Lewat Pengeras Suara demi Redakan Ketegangan dengan Korea Utara
Warner Bros Discovery Terbelah, Fitch Turunkan Peringkat Utang ke Status “Junk"
Harga Konsumen AS Naik Moderat, Tapi Tarif Impor Ancam Lonjakan Inflasi di Paruh Kedua 2025