Inti berita:
• Sherina Munaf turun langsung membantu pemadaman karhutla di Kalimantan Tengah setelah menyaksikan tebalnya kabut asap dari pesawat dan merasakan dampaknya hingga ke daratan.
METROSELEBES.com, KALTENG — Dari balik jendela pesawat, hamparan Kalimantan Tengah yang semestinya terlihat jelas justru berubah menjadi pandangan keruh. Sherina Munaf menyadari ada sesuatu yang berbeda ketika pesawat yang ditumpanginya bersiap mendarat: yang menyelimuti daratan bukan awan, melainkan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Perjalanan dari Jakarta menuju Kalimantan Tengah bahkan sempat mengalami keterlambatan karena jarak pandang yang terganggu. Sherina mengatakan, tebalnya asap membuat proses pendaratan harus mempertimbangkan kondisi visibilitas. Bau asap pun disebutnya terasa hingga masuk ke dalam kabin pesawat.
Baca juga: 8 WNI Disebut Masuk Tentara Rusia, Dasco Ungkap Modus Iming-iming Gaji Besar
“Ketika mau landing, mulai tuh terlihat keruh sampai akhirnya enggak kelihatan apa-apa dan itu bukan awan, itu asap,” ujar Sherina dalam video kolaborasi dengan @pawerfulvoices yang diunggah Rabu (2/9/2026). Ia mengaku langsung menggunakan masker setelah merasa tidak nyaman akibat asap.
Setibanya di daratan, persoalan kabut asap yang sebelumnya hanya terlihat dari udara berubah menjadi kondisi yang ia saksikan secara langsung. Di kawasan Jalan Lingkar Luar, Sherina menemukan sejumlah bekas terbakar dan titik bara yang masih muncul. Menurutnya, api yang tampak kecil tetap mampu menghasilkan asap dalam jumlah besar dan berpotensi membesar jika kondisi angin mendukung.
Baca juga: Dua Tahun Jadi Buronan, Mantan Bupati Minahasa Utara Ditangkap di Rumah Sakit Timika
Pengalaman itu berlanjut ketika Sherina ikut turun membantu proses pemadaman di kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu. Ia turut membantu tim mengatasi bara yang kembali menyala setelah sebelumnya sempat padam. “Sejam usaha madamin bara-bara yang muncul cukup menguras energi. Asap kencang sekali, visibilitas rendah,” tulis Sherina dalam unggahannya.
Baca juga: KAHMI Sulsel Bongkar Peran Partai Politik di Tengah Masa Depan Otonomi Daerah
Di sisi lain, kondisi karhutla tersebut juga tergambar dalam data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan. Per 1 September 2026, sejumlah wilayah mengalami peningkatan hotspot, antara lain Kalimantan Barat dari 273 menjadi 859 titik dan Kalimantan Tengah dari 253 menjadi 623 titik. Kalimantan Selatan naik dari 22 menjadi 73 titik, Sumatera Selatan 20 menjadi 89 titik, sedangkan Jambi tercatat empat titik dan Riau nol titik.
Baca juga: Duduk Perkara Maba UIN Alauddin Tolak Militer Masuk Kampus saat PBAK, Berujung Isu Ancaman DO
Sherina pun menyoroti kerja tim di lapangan yang harus berhadapan dengan asap pekat dan jarak pandang rendah selama proses pemadaman. Ia menyebut tim BKSDA Kalteng telah melakukan pemadaman selama delapan hari dan sempat berhasil membuat api padam selama dua hari sebelum bara kembali muncul. Pengalaman tersebut membuatnya melihat langsung bahwa persoalan karhutla bukan hanya soal api, tetapi juga dampak asap yang dirasakan warga dan beratnya perjuangan petugas di lapangan. (*)
Artikel Terkait
293 Santri Sidoarjo Dilarikan ke 8 Rumah Sakit usai Santap MBG, Bupati Turun Tangan Cek SPPG
Belajar dari Tragedi Lingkar Walangsi, Luka Remaja di Tengah Konflik Keluarga yang Berujung Maut
Duduk Perkara Maba UIN Alauddin Tolak Militer Masuk Kampus saat PBAK, Berujung Isu Ancaman DO
Mati Lampu Bergilir di Makassar Hari Ini, dari Pusat Kota hingga BTP: Berlangsung sampai Tengah Malam
KAHMI Sulsel Bongkar Peran Partai Politik di Tengah Masa Depan Otonomi Daerah