Duduk Perkara Maba UIN Alauddin Tolak Militer Masuk Kampus saat PBAK, Berujung Isu Ancaman DO

photo author
Syamsir Anchi, Metro Selebes
- Rabu, 2 September 2026 | 15:12 WIB
Aksi maba UIN Alauddin menolak militer saat PBAK berujung pemanggilan mahasiswa dan muncul isu ancaman sanksi hingga DO. (Dok.Instagram@sosmed_makassar)
Aksi maba UIN Alauddin menolak militer saat PBAK berujung pemanggilan mahasiswa dan muncul isu ancaman sanksi hingga DO. (Dok.Instagram@sosmed_makassar)

Inti berita

• Sejumlah mahasiswa baru UIN Alauddin Makassar membentangkan poster “Tolak Militer Masuk Kampus” saat PBAK 2026.

• Aksi tersebut dipicu kehadiran Pangdam XIV/Hasanuddin sebagai pemateri dan berujung pada pemanggilan mahasiswa.

• Tak lama kemudian, muncul isu ancaman DO bagi mahasiswa yang diduga terlibat dalam aksi tersebut, namun belum terkonfirmasi sebagai keputusan resmi kampus.

 

METROSELEBES.com, MAKASSAR — Selembar kertas bertuliskan “Tolak Militer Masuk Kampus” mendadak mencuri perhatian di tengah pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Alauddin Makassar, Selasa (1/9/2026).

Baca juga: Menepis Rumor Liar Netizen, Ini Fakta Perjalanan Cinta Aisyah Thisia dan Agustiar Sabran 

Sekitar 10 hingga 15 mahasiswa baru disebut membentangkan tulisan tersebut di Masjid Agung Sultan Alauddin, Kampus II UIN Alauddin Makassar, Samata, Kabupaten Gowa. Aksi itu berlangsung singkat dan kemudian mendapat respons dari petugas keamanan serta panitia PBAK.

Baca juga: Mati Lampu Bergilir di Makassar Hari Ini, dari Pusat Kota hingga BTP: Berlangsung sampai Tengah Malam 

Aksi tersebut terjadi saat Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko hadir sebagai salah satu pemateri dalam rangkaian PBAK. Kehadiran pimpinan TNI wilayah Sulawesi Selatan itu menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menyampaikan penolakan terhadap keterlibatan militer di lingkungan perguruan tinggi.

Situasi pun sempat menjadi perhatian di tengah kegiatan. Petugas keamanan kampus bersama panitia PBAK bergerak mendekati mahasiswa yang membentangkan poster dan meminta mereka kembali mengikuti kegiatan.

Namun, Pangdam tidak merespons aksi tersebut sebagai gangguan besar. Dalam penyampaian materinya, Bangun justru memberikan pesan mengenai pentingnya keberanian moral dan etika dalam menyampaikan pendapat.

Baca juga: Belajar dari Tragedi Lingkar Walangsi, Luka Remaja di Tengah Konflik Keluarga yang Berujung Maut 

Ia mengingatkan mahasiswa agar tetap menghargai profesi orang lain ketika menyampaikan aspirasi. "Kebebasan berpendapat di lingkungan perguruan tinggi semestinya dilakukan dengan cara yang baik, tanpa caci maki, ujaran kebencian, ataupun tindakan yang merendahkan institusi dan profesi tertentu," ujar Bangun Nawoko.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Syamsir Anchi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X