RIYADH,METROSELEBES.COM-Ekonomi Arab Saudi mencatat pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan pada kuartal pertama tahun 2025, menurut data terbaru dari Otoritas Umum Statistik Saudi. Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut tumbuh sebesar 3,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mengungguli estimasi awal sebesar 2,7% yang dirilis pada Mei lalu. Seperti dikutip dari Reuters pada Senin, (09/06/2025).
Baca Juga: Tekanan Deflasi Makin Dalam, Ekonomi China Tertekan Perang Dagang dan Krisis Properti
Pertumbuhan ini didorong oleh kontraksi yang lebih kecil dari sektor minyak dan peningkatan yang signifikan dari sektor non-minyak. Kepala Ekonom Bank Komersial Abu Dhabi, Monica Malik, menyatakan bahwa revisi naik tersebut merupakan hasil dari "kontraksi tahunan sektor minyak yang lebih kecil dan pertumbuhan sektor swasta yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya."
Data terbaru menunjukkan bahwa PDB sektor minyak hanya menyusut sebesar 0,5%, lebih kecil dari perkiraan awal yang menunjukkan penurunan sebesar 1,4%. Sementara itu, sektor non-minyak tumbuh sebesar 4,9%, naik dari proyeksi bulan lalu sebesar 4,2%. Kenaikan produksi minyak nasional diperkirakan turut meredam dampak negatif dari penurunan harga minyak dunia.
Baca Juga: Kapal Induk China Liaoning Lintasi Timur Iwo Jima, Jepang Tingkatkan Pengawasan
Meski demikian, Arab Saudi menghadapi tantangan fiskal. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa kerajaan membutuhkan harga minyak di atas $90 per barel untuk menyeimbangkan anggarannya, sementara harga minyak global dalam beberapa pekan terakhir hanya berada di kisaran $60 per barel.
Pada awal Juni, Arab Saudi—sebagai pengekspor minyak terbesar dunia—menurunkan harga jual minyak mentah untuk pembeli Asia di bulan Juli. Penyesuaian ini dilakukan setelah OPEC+ (Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya) sepakat untuk menaikkan produksi minyak sebesar 411.000 barel per hari (bph) untuk bulan keempat berturut-turut.
Di tengah tekanan fiskal, Arab Saudi tetap melanjutkan program transformasi ekonomi besar-besaran yang dikenal sebagai Visi 2030. Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan mendorong diversifikasi ekonomi melalui proyek-proyek pembangunan berskala besar. Diperkirakan, defisit fiskal Arab Saudi pada tahun 2025 akan mencapai sekitar 101 miliar riyal (sekitar $27 miliar).
Menteri Keuangan Saudi, Mohammed Al-Jadaan, menyampaikan bahwa pemerintah sedang meninjau kembali prioritas belanja negara sebagai respons terhadap penurunan signifikan pendapatan minyak. Namun, meskipun ada potensi penghematan, pengeluaran untuk proyek-proyek besar masih akan tetap tinggi.
Baca Juga: Inovasi Hilirisasi Pertanian: Kunci Indonesia Jadi Superpower Pangan Dunia
Artikel Terkait
Visa Aktif Tapi Dideportasi: Ironi Calon Haji Indonesia di Tanah Suci
Dua Arah Bintang Lapangan: Takefusa Kubo dan Ole Romeny, Wajah Baru Sepak Bola Asia dan Indonesia
Lonjakan Perkebunan Dongkrak Pertumbuhan Pertanian Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir
BSU 2025 Resmi Bergulir! Harapan Baru Pekerja Lewat Permenaker Terbaru
Koperasi Desa Merah Putih: Solusi Ekonomi Rakyat yang Tumbuh dari Akar Desa
Titik Balik Penanggulangan Kemiskinan: Strategi Baru Pemerintah Menyasar Kantong Kemiskinan Terisolasi
Inovasi Hilirisasi Pertanian: Kunci Indonesia Jadi Superpower Pangan Dunia"
Pengadilan Tunda Sidang Pelanggaran Hukum Pemilu Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung Tanpa Batas Waktu
Kapal Induk China Liaoning Lintasi Timur Iwo Jima, Jepang Tingkatkan Pengawasan
Tekanan Deflasi Makin Dalam, Ekonomi China Tertekan Perang Dagang dan Krisis Properti