Era Baru Ketegangan Global: Dari Asia Selatan hingga Timur Tengah, Dunia di Ambang Eskalasi Militer

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 27 Juni 2025 | 08:27 WIB
Sebuah sistem anti-rudal beroperasi saat rudal diluncurkan dari Iran, terlihat dari Tel Aviv, Israel, 18 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS
Sebuah sistem anti-rudal beroperasi saat rudal diluncurkan dari Iran, terlihat dari Tel Aviv, Israel, 18 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS

China sendiri dilaporkan mempercepat pengembangan pesawat pembom siluman H-2, namun belum memiliki kemampuan seperti B-2 atau B-21 milik AS. Baik Rusia maupun China tidak memiliki senjata konvensional sekelas itu untuk menghantam target bawah tanah dalam jarak jauh tanpa peringatan.

 

Kecemasan terhadap konflik bersenjata juga kembali muncul di Asia Selatan. Analisis dari Stimson Center menyebut Pakistan mungkin telah secara terbuka mempersiapkan senjata nuklirnya selama konflik dengan India, sebagai sinyal kepada AS agar segera menghentikan serangan India yang kian merusak. India, di sisi lain, tampak bersiap menggunakan strategi jangka panjang seperti mencabut perjanjian air Sungai Indus, yang oleh Pakistan dianggap sebagai tindakan perang.

 

Sementara itu di Ukraina, konflik dengan Rusia terus meningkat, dengan Ukraina berhasil melancarkan serangan drone ke pangkalan pembom jarak jauh Rusia — bahkan menghancurkan pesawat-pesawat yang membawa senjata nuklir.

Baca Juga: MK Pisahkan Pemilu Nasional-Daerah: Strategi Baru Demi Demokrasi Berkualitas

Serangan drone juga menjadi alat utama dalam konflik Israel-Iran. Israel diduga menyelundupkan drone ke wilayah Iran dan bahkan merakitnya secara diam-diam untuk menyerang para pejabat senior Iran di rumah mereka. Keberhasilan ini menginspirasi negara-negara NATO untuk meningkatkan pertahanan mereka dari potensi serangan serupa.

 

Di Timur Tengah, AS juga mengklaim keberhasilan Operasi ROUGH RIDER terhadap milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman. Wakil Laksamana Bradley Cooper menyebut bahwa setelah 50 hari pemboman, Houthis akhirnya menyepakati penghentian serangan ke jalur pelayaran internasional.

Baca Juga: Desa Bangkit dari Sunyi: Koperasi Menjadi Mesin Penggerak Baru

Namun, ia juga memperingatkan bahwa kelompok militan di kawasan kini semakin lihai membangun basis bawah tanah serta menggunakan sistem tanpa awak untuk mengecoh pertahanan musuh. "Karakter peperangan berubah di depan mata kita," katanya.

 

Saat Presiden Trump dan para pemimpin NATO berkumpul di Den Haag untuk KTT tahunan, dunia menyaksikan perubahan besar dalam cara kekuatan global memproyeksikan kekuatan dan mengelola risiko konflik. Namun satu hal kini makin jelas: batas antara perdamaian dan perang semakin kabur, dan dunia berada di persimpangan yang berbahaya.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X