Era Baru Ketegangan Global: Dari Asia Selatan hingga Timur Tengah, Dunia di Ambang Eskalasi Militer

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 27 Juni 2025 | 08:27 WIB
Sebuah sistem anti-rudal beroperasi saat rudal diluncurkan dari Iran, terlihat dari Tel Aviv, Israel, 18 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS
Sebuah sistem anti-rudal beroperasi saat rudal diluncurkan dari Iran, terlihat dari Tel Aviv, Israel, 18 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS

WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Dunia tengah memasuki era baru ketegangan militer, ditandai dengan meningkatnya konflik bersenjata antar negara besar, penggunaan teknologi militer canggih, serta ancaman nuklir yang kembali menghantui kawasan. Dari “perang empat hari” antara India dan Pakistan hingga konfrontasi 12 hari antara Israel dan Iran, konflik global tampaknya semakin berani melintasi batas lama yang selama ini dianggap tabu. Seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (27/06/2025).

Baca Juga: Kilmar Abrego Akan Diadili dan Dideportasi Lagi, Tapi Bukan ke El Salvador

Ketika Kepala Staf Pertahanan India, Jenderal Anil Chauhan, menghadiri konferensi keamanan internasional di Singapura pada Mei lalu, ia menyampaikan pandangan mencolok: India dan Pakistan kemungkinan besar akan kembali bertempur. Pertukaran senjata selama empat hari itu — terutama melibatkan drone dan rudal — dianggap sebagai salah satu konflik paling serius dalam sejarah antara dua negara bersenjata nuklir.

 

Dilaporkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio harus turun tangan langsung untuk menghentikan pertukaran serangan yang makin meningkat. Meskipun Chauhan menegaskan bahwa tidak ada negara yang mendekati ambang penggunaan senjata nuklir, ia menyebut bahwa ruang bagi “operasi konvensional” telah tercipta dan akan menjadi norma baru.

 

Konflik serupa juga terjadi antara Israel dan Iran. Setelah 12 hari pertempuran intens yang melibatkan rudal dan drone, gencatan senjata akhirnya tercapai berkat mediasi Amerika Serikat, yang juga melancarkan serangan udara besar-besaran ke situs nuklir bawah tanah Iran. Ini menjadi pertama kalinya dalam sejarah modern Israel dan Iran saling menyerang langsung wilayah masing-masing.

Baca Juga: MK Akhiri “Pemilu 5 Kotak”: Nasional dan Lokal Resmi Terpisah Mulai 2029

Dalam konflik ini, AS menampilkan kekuatan militer melalui penggunaan pesawat pembom siluman B-2 dari daratan AS — yang mampu mencapai target bawah tanah tanpa terdeteksi. Presiden Donald Trump secara tersirat memperingatkan bahwa serangan serupa bisa ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, bila Teheran tidak mundur.

 

Kementerian Pertahanan AS menyebut tindakan ini sebagai bentuk kembalinya “deterrence Amerika.” Sementara tanggapan Iran tergolong moderat, hanya meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Qatar dengan pemberitahuan sebelumnya, tampaknya demi menghindari eskalasi lebih jauh.

 

Para pejabat tinggi militer AS di Eropa dan Timur Tengah sepakat bahwa serangan ke Iran justru memperkuat posisi Washington dalam menghadapi tantangan dari Rusia dan China. Namun di media Tiongkok, respons lebih beragam — sebagian menilai AS menunjukkan kelemahan karena enggan terlibat lebih jauh, sementara lainnya menyoroti kerentanan Iran.

Baca Juga: Ekosistem Mandiri, Solusi Baru Pemerintah Atasi Ketergantungan Bantuan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X