Isidre Porqueras, Chief Operating Officer dari maskapai India, IndiGo, mengatakan bahwa pengalihan rute justru menghapus upaya efisiensi dan pengurangan emisi yang selama ini diperjuangkan.
Baca Juga: Tangkal Terorisme, Nigeria Usulkan Pagar Total di Perbatasan Empat Negara
Risiko Terburuk: Pesawat Ditembak Jatuh
Di luar persoalan biaya, risiko terburuk bagi penerbangan sipil adalah pesawat yang terkena serangan senjata — baik disengaja maupun tidak. Pada Desember lalu, pesawat Azerbaijan Airlines jatuh di Kazakhstan dan menewaskan 38 orang. Menurut Presiden Azerbaijan dan sejumlah sumber Reuters, pesawat tersebut secara tidak sengaja ditembak oleh pertahanan udara Rusia.
Insiden serupa terjadi pada Oktober di Sudan, saat pesawat kargo ditembak jatuh dan menewaskan lima orang. Sejak 2001, sudah ada enam pesawat komersial yang ditembak jatuh dan tiga insiden hampir terjadi, menurut data konsultan risiko penerbangan Osprey Flight Solutions.
Baca Juga: Menteri Pariwisata Tanamkan Spirit Bangga Melayani Bangsa kepada 285 CPNS Baru
Willie Walsh, Direktur Jenderal IATA, mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk meningkatkan kerja sama dalam membagikan informasi demi melindungi penerbangan sipil. Statistik keselamatan penerbangan memang menunjukkan penurunan angka kecelakaan dalam dua dekade terakhir, namun insiden akibat konflik bersenjata tidak termasuk dalam perhitungan tersebut.
Kebijakan Bervariasi, Awak Pesawat Cemas. Maskapai memiliki kebijakan sendiri dalam memilih rute, berdasarkan campuran informasi dari pemerintah, penasihat keamanan, serta kerja sama antar maskapai dan negara. Hal ini menghasilkan kebijakan yang tidak seragam dan kadang membingungkan.
Sejak Rusia menutup wilayah udaranya bagi maskapai Barat pascainvasi Ukraina 2022, banyak maskapai Eropa dan Amerika mengalami kerugian karena harus mengambil rute yang lebih panjang dan mahal — sementara maskapai dari China, India, dan Timur Tengah masih bisa menggunakan jalur utara yang lebih hemat bahan bakar dan awak.
Perubahan perhitungan risiko juga terlihat dari rute penerbangan Singapore Airlines (SQ326) dari Singapura ke Amsterdam, yang telah menggunakan tiga jalur berbeda dalam setahun terakhir. Saat konflik antara Iran dan Israel pecah April lalu, rute dialihkan melalui Afghanistan, menghindari wilayah udara Iran. Ketika konflik India–Pakistan memanas bulan lalu, rute kembali berubah melewati Teluk Persia dan Irak.
Artikel Terkait
Menteri Pariwisata Tanamkan Spirit Bangga Melayani Bangsa kepada 285 CPNS Baru
Prabowo Tegaskan “Jangan Mencuri dari Rakyat”: Seruan Tegas untuk Pemimpin Bangsa
Operasi Cap Tikus: Polisi Bongkar Pabrik Miras Ilegal di Hutan Sula
Museum Marketing Kelas Dunia Lahir di Indonesia: Inovasi BUMN Jadi Sorotan Global
Tangkal Terorisme, Nigeria Usulkan Pagar Total di Perbatasan Empat Negara
Tarif Trump dan Masalah Logistik Tekan Kepercayaan Bisnis di Afrika Selatan
Rumah Bersama Indonesia Jadi Benteng Aman Perempuan dan Anak di Sumbar
Krisis Agraria Sawit di Kalbar: 66 Perusahaan Belum Kantongi HGU, 131 Ribu Hektare Terlantar
Mantan Terpidana Bom Bali 2002 Buka Usaha Kopi, Janji Sisihkan Penghasilan untuk Korban
Maskapai Dunia Kembali Hentikan Penerbangan ke Israel Setelah Serangan Rudal