Di tengah kompleksitas ini, awak pesawat pun merasa waswas. “IATA menyerahkan keputusan kepada maskapai apakah aman terbang di zona konflik. Tapi sejarah menunjukkan tekanan komersial bisa mempengaruhi penilaian itu,” kata Paul Reuter, Wakil Presiden Asosiasi Kokpit Eropa, yang mewakili para pilot.
Baca Juga: Trump dan Xi Siap Bicara di Tengah Memanasnya Perang Dagang Global
Meski begitu, IATA menegaskan bahwa awak pesawat berhak menolak terbang jika merasa tidak aman. “Sebagian besar maskapai — bahkan hampir semuanya — tidak akan memaksa kru untuk terbang jika mereka merasa tidak nyaman,” tutup Nick Careen.
Artikel Terkait
Menteri Pariwisata Tanamkan Spirit Bangga Melayani Bangsa kepada 285 CPNS Baru
Prabowo Tegaskan “Jangan Mencuri dari Rakyat”: Seruan Tegas untuk Pemimpin Bangsa
Operasi Cap Tikus: Polisi Bongkar Pabrik Miras Ilegal di Hutan Sula
Museum Marketing Kelas Dunia Lahir di Indonesia: Inovasi BUMN Jadi Sorotan Global
Tangkal Terorisme, Nigeria Usulkan Pagar Total di Perbatasan Empat Negara
Tarif Trump dan Masalah Logistik Tekan Kepercayaan Bisnis di Afrika Selatan
Rumah Bersama Indonesia Jadi Benteng Aman Perempuan dan Anak di Sumbar
Krisis Agraria Sawit di Kalbar: 66 Perusahaan Belum Kantongi HGU, 131 Ribu Hektare Terlantar
Mantan Terpidana Bom Bali 2002 Buka Usaha Kopi, Janji Sisihkan Penghasilan untuk Korban
Maskapai Dunia Kembali Hentikan Penerbangan ke Israel Setelah Serangan Rudal