Tarif Trump dan Masalah Logistik Tekan Kepercayaan Bisnis di Afrika Selatan

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Rabu, 4 Juni 2025 | 17:22 WIB
Pemandangan umum Jembatan Nelson Mandela dan kawasan pusat bisnis Johannesburg, Afrika Selatan. Source FOTO: REUTERS
Pemandangan umum Jembatan Nelson Mandela dan kawasan pusat bisnis Johannesburg, Afrika Selatan. Source FOTO: REUTERS

JOHANNESBURG,METROSELEBES.COM-Kepercayaan pelaku bisnis di Afrika Selatan mengalami penurunan signifikan pada kuartal kedua tahun 2025, di tengah kekhawatiran terhadap kebijakan tarif baru Amerika Serikat dan hambatan logistik dalam negeri.

Baca Juga: Tangkal Terorisme, Nigeria Usulkan Pagar Total di Perbatasan Empat Negara

Menurut survei yang dirilis oleh Rand Merchant Bank (RMB) bekerja sama dengan Bureau of Economic Research, indeks kepercayaan bisnis turun dari 45 poin pada kuartal pertama menjadi 40 poin pada kuartal kedua. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian perdagangan global dan kendala struktural yang masih membayangi ekonomi domestik.

 

Salah satu faktor utama yang membebani sentimen bisnis adalah pengenaan tarif baru oleh Presiden AS Donald Trump, yang dikenal sebagai "Liberation Day Tariffs". Kebijakan ini telah menimbulkan kekhawatiran di pasar global, termasuk Afrika Selatan, yang kini terdampak langsung oleh gejolak perdagangan. Selain itu, tantangan logistik dalam negeri—terutama kemacetan di pelabuhan dan hambatan di jaringan kereta api barang—masih menjadi hambatan serius bagi pertumbuhan sektor swasta.

Baca Juga: Presiden Baru Korea Selatan, Lee Jae-myung, Janji Selamatkan Demokrasi dan Ekonomi dari Jurang Krisis

Mata uang rand Afrika Selatan sempat terpuruk ke titik terendah sepanjang masa pada bulan April akibat kombinasi perang dagang dan ketidakpastian politik dalam negeri, terutama seputar stabilitas koalisi pemerintahan baru. Namun, rand mulai pulih setelah diumumkannya jeda 90 hari terhadap kebijakan tarif baru tersebut.

 

Minggu lalu, Bank Sentral Afrika Selatan memangkas suku bunga acuan (repo rate) sebesar 25 basis poin menjadi 7,25%. Langkah ini disertai dengan penurunan proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini dan tahun depan. RMB menyebut pemangkasan suku bunga tersebut sebagai "angin segar", namun menegaskan bahwa langkah tersebut belum cukup untuk memulihkan semangat di sektor bisnis.

Baca Juga: Fahri Hamzah Tegaskan Rumah Subsidi Minimal Tipe 36: Sesuai Standar Layak Huni dan SDGs

Upaya pemerintah koalisi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui reformasi struktural dinilai positif, tetapi hasilnya masih terbatas karena tantangan-tantangan lama belum sepenuhnya teratasi. Dalam laporan survei, sektor-sektor seperti ritel, penjualan kendaraan baru, konstruksi, dan manufaktur semuanya mencatat penurunan tingkat kepercayaan. Hanya pedagang grosir yang menunjukkan peningkatan optimisme, menjadikannya satu-satunya sektor dengan tren positif.

 

"Mayoritas responden masih pesimistis terhadap kondisi perdagangan saat ini. Meskipun indeks masih berada di atas rata-rata tahun 2023 dan 2024, tingkat kepercayaan saat ini sedikit di bawah rata-rata jangka panjang," tulis RMB dalam pernyataannya.

Baca Juga: Museum Marketing Kelas Dunia Lahir di Indonesia: Inovasi BUMN Jadi Sorotan Global

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X