Hakim AS Pertimbangkan Sanksi Lebih Ringan bagi Google dalam Kasus Monopoli Mesin Pencari

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Minggu, 1 Juni 2025 | 18:02 WIB
Logo Google yang baru terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 13 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS
Logo Google yang baru terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 13 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS

WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Hakim Federal AS, Amit Mehta, mengindikasikan kemungkinan memberlakukan sanksi yang lebih ringan terhadap Google dalam kasus antitrust yang menuduh raksasa teknologi tersebut memonopoli pasar mesin pencari dan iklan digital. Dalam sidang penutupan yang berlangsung Jumat lalu, Hakim Mehta menyatakan bahwa perubahan cepat di industri teknologi, termasuk kebangkitan kecerdasan buatan (AI), membuat intervensi jangka panjang seperti rezim 10 tahun yang diusulkan pemerintah perlu dikaji ulang. Seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (30/05/2025).

Baca Juga: Apakah Google Akan Kehilangan Dominasi di Dunia Pencarian? Berikut Penjelasannya.!!

Departemen Kehakiman AS (DOJ) bersama koalisi negara bagian mendesak agar Google dihukum dengan mewajibkan perusahaan untuk berhenti membayar miliaran dolar kepada Apple dan produsen ponsel lainnya agar tetap menjadi mesin pencari default. Mereka juga ingin Google membagikan data pencarian kepada pesaing untuk memulihkan persaingan pasar.

 

Namun, dalam pernyataannya, Mehta membuka kemungkinan alternatif berupa pembatasan berbagi data dan penghentian pembayaran hanya jika pendekatan lain terbukti tidak efektif. Ia juga menyinggung kemungkinan pergeseran preferensi pengguna dari mesin pencari tradisional ke teknologi AI yang lebih canggih.

 

“Sepuluh tahun mungkin tampak singkat, tapi di industri ini, banyak hal bisa berubah hanya dalam hitungan minggu,” ujar Mehta, menyoroti kemunculan perusahaan seperti OpenAI yang kini berekspansi ke perangkat keras setelah mengakuisisi startup perangkat AI.

Baca Juga: Menjelang G7, PM Jepang Ishiba Upayakan Deal Dagang dengan Trump

Hakim Mehta juga meragukan efektivitas menjadikan mesin pencari seperti DuckDuckGo atau Bing sebagai pengganti Google di Safari milik Apple. Menurutnya, pesaing masa depan justru mungkin datang dari perusahaan AI yang menawarkan lebih dari sekadar hasil pencarian berbentuk tautan.

 

Kasus ini telah mengguncang saham Google, terutama setelah muncul bocoran bahwa Apple mempertimbangkan opsi pencarian berbasis AI untuk menggantikan Google di perangkatnya. Sidang yang dimulai sejak April ini ditargetkan akan memperoleh keputusan akhir pada Agustus mendatang.

Baca Juga: Wamenaker Blak-Blakan: Ada Pengusaha Tolak SE Larangan Syarat Usia Dan Good Looking, Ini Regulasi Negara..!

 

Kekhawatiran utama DOJ adalah dominasi Google di mesin pencari dapat memperkuat posisi mereka dalam pasar AI, terutama produk seperti Gemini. Dalam persidangan, Kepala Produk ChatGPT dari OpenAI, Nick Turley, mengakui bahwa perusahaannya masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kemampuan menjawab 80% pertanyaan secara mandiri tanpa mengandalkan data pencarian Google. Ia juga menyebut bahwa akses terhadap data pencarian akan sangat membantu dalam mengembangkan ChatGPT.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X