WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Raksasa teknologi Google, anak perusahaan dari Alphabet Inc, menyatakan akan mengajukan banding terhadap keputusan pengadilan federal AS terkait praktik monopoli dalam pasar pencarian online dan periklanan digital. Pernyataan ini muncul setelah Hakim Distrik AS, Amit Mehta, mengusulkan langkah-langkah yang dianggap kurang agresif dibandingkan rekomendasi Departemen Kehakiman AS (DOJ) untuk memulihkan persaingan di sektor tersebut. Seperti dikutip dari Reuters pada Minggu, (01/06/2025).
Baca Juga: Menjelang G7, PM Jepang Ishiba Upayakan Deal Dagang dengan Trump
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis melalui platform X (sebelumnya Twitter), Google menyatakan ketidakpuasan terhadap keputusan awal pengadilan dan menegaskan keyakinannya bahwa putusan tersebut keliru. “Kami akan menunggu opini akhir dari Pengadilan. Namun, kami masih sangat yakin bahwa keputusan awal pengadilan itu salah dan menantikan proses banding kami selanjutnya,” tulis Google.
Sidang akhir mengenai kasus ini berlangsung pada hari Jumat di Washington, di mana argumen penutup disampaikan untuk menilai proposal pemulihan persaingan dalam industri pencarian online dan iklan terkait yang didominasi oleh Google.
Pada bulan April lalu, pengadilan federal menyatakan bahwa Google secara ilegal mendominasi dua pasar utama dalam teknologi iklan digital. Departemen Kehakiman AS kemudian merekomendasikan agar Google melepaskan kepemilikan atas Google Ad Manager, platform yang mencakup server iklan penerbit serta bursa iklan perusahaan tersebut.
Selain itu, DOJ dan koalisi dari sejumlah negara bagian mendesak agar Google menghentikan praktik pembayaran miliaran dolar kepada Apple dan produsen smartphone lainnya agar menjadikan Google sebagai mesin pencari default di perangkat baru. Langkah ini dinilai memperkuat posisi dominan Google dan menyulitkan pesaing untuk bersaing secara adil.
Baca Juga: Pertahanan Global Goyang: Ketika Eropa Berkata ‘Tidak’ pada Amerika di Asia
Kekhawatiran regulator antimonopoli juga mencakup pengaruh dominasi pencarian online Google terhadap pasar produk kecerdasan buatan (AI), seperti sistem Gemini milik Google, dan sebaliknya.
Selama persidangan, pengacara Google, John Schmidtlein, membela perusahaan dengan menyebut bahwa Google telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi kekhawatiran terkait persaingan, termasuk menghentikan perjanjian eksklusif dengan operator seluler dan produsen ponsel seperti Samsung. Ia menegaskan bahwa hal ini memberikan kebebasan bagi produsen untuk menyertakan aplikasi pencarian dan AI pesaing di perangkat mereka.
Baca Juga: Gagal Bersaing dengan Asia, Meyer Burger Tutup Pabrik dan Ajukan Kepailitan
Artikel Terkait
Gagal Bersaing dengan Asia, Meyer Burger Tutup Pabrik dan Ajukan Kepailitan
Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhidin Lepas Pawai Kebangsaan di Citraland Palu
Kemenkes Terbitkan Edaran Waspada COVID-19, Tren Menurun Tapi Varian Baru Mengintai Asia
Daihatsu Xenia 2025 Hadir Lebih Modern, Irit dan Terjangkau Untuk Keluarga Indonesia, Intip Harganya..!
Fakta Sejarah 1 Juni, Hari Lahir Pancasila Yang Sempat Dilarang Di Era Soeharto
Inilah Cerita Tentang Burung Garuda Yang Jadi Lambang Negara Indonesia
Pertahanan Global Goyang: Ketika Eropa Berkata ‘Tidak’ pada Amerika di Asia
Komentar Mbappe Usai PSG Libas Inter 5-0 Dan Raih Treble Winner Liga Champions
Wamenaker Blak-Blakan: Ada Pengusaha Tolak SE Larangan Syarat Usia Dan Good Looking, Ini Regulasi Negara..!
Menjelang G7, PM Jepang Ishiba Upayakan Deal Dagang dengan Trump