TOKYO,METROSELEBES.COM- Krisis harga beras di Jepang kini menelan korban politik. Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Taku Eto, resmi mengundurkan diri pada Rabu setelah pernyataannya yang kontroversial memicu gelombang kritik dari masyarakat dan parlemen. Pernyataan Eto soal dirinya “tidak pernah perlu membeli beras” karena selalu menerima hadiah dari para pendukung dinilai tidak sensitif di tengah lonjakan harga beras yang drastis.
Baca Juga: Kejagung Tangkap Bos Sritex Terkait Dugaan Korupsi Kredit Bank Rp3,6 Triliun
Komentar tersebut dilontarkan dalam sebuah acara penggalangan dana politik akhir pekan lalu, yang kemudian dilaporkan oleh media. Reaksi publik begitu keras, mengingat harga beras melonjak dua kali lipat dari tahun sebelumnya akibat panen buruk dan lonjakan permintaan dari sektor pariwisata. Bagi rakyat Jepang yang terbiasa hidup dalam era deflasi dan stagnasi pendapatan, kondisi ini menjadi pukulan berat.
“Saya telah membuat pernyataan yang sangat tidak pantas pada saat warga sedang menderita akibat harga beras yang meroket,” ujar Eto di hadapan wartawan setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya di kantor perdana menteri.
Baca Juga: BYD Unggul di Teknologi Smart Driving, Siap Geser Tesla?
Sebagai pengganti, Perdana Menteri Shigeru Ishiba menunjuk mantan Menteri Lingkungan Hidup, Shinjiro Koizumi, untuk memimpin Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MAFF). Ishiba menyatakan harapannya bahwa semangat reformis Koizumi dapat membawa perubahan nyata.
“Koizumi memiliki pengalaman, wawasan, dan semangat untuk reformasi di sektor pertanian dan perikanan,” ujar Ishiba dalam konferensi pers.
Harga beras kini menjadi isu utama yang menghantui pemerintahan Ishiba. Data terakhir menunjukkan harga eceran beras di supermarket naik kembali menjadi 4.268 yen (sekitar Rp470.000) untuk kemasan 5 kg per 11 Mei, meski sebelumnya sempat turun untuk pertama kalinya dalam 18 minggu. Pemerintah telah berupaya menstabilkan harga dengan melepas cadangan beras darurat sejak Maret, namun dampaknya belum signifikan.
Koizumi mengakui bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menurunkan harga beras. “(MAFF) memiliki banyak tugas, tetapi bagi saya, saat ini hanya ada satu hal: beras. Saya memasuki jabatan ini dengan pola pikir bahwa saya adalah 'menteri urusan beras',” tegasnya.
Baca Juga: Waspada Virus Fantasi Sedarah: DPR RI Desak Polisi Tangkap Pengelola Grup Menyimpang