Ia juga menegaskan tidak akan segan menyentuh kebijakan-kebijakan lama yang selama ini melindungi produksi dalam negeri dengan pembatasan produksi dan tarif tinggi terhadap impor. Tradisi ini selama bertahun-tahun didukung oleh basis politik utama Partai Demokratik Liberal (LDP): petani beras.
Pengunduran diri Eto menambah tekanan pada pemerintahan Ishiba yang sudah goyah, terutama menjelang pemilu majelis tinggi pada Juli mendatang. Partai LDP dan mitra koalisinya, Komeito, kehilangan mayoritas di majelis rendah dalam pemilu kilat Oktober lalu.
Baca Juga: Kabar Gembira! Gaji Ketiga Belas Pensiunan Cair Mei 2025 Tanpa Ribet
Reaksi publik di media sosial menunjukkan rasa frustrasi yang mendalam. “Semakin yakin LDP harus dilenyapkan sepenuhnya,” tulis salah satu pengguna X (dulu Twitter), menyuarakan pesimisme terhadap pengganti Eto.
Menurut Profesor Ilmu Politik Hiroshi Shiratori dari Universitas Hosei, pengunduran diri Eto adalah langkah yang tak terhindarkan. “Keputusan ini terlalu lambat, baru dilakukan setelah lima partai oposisi mengancam dengan mosi tidak percaya. Ini menunjukkan lemahnya kepemimpinan Perdana Menteri Ishiba,” jelasnya.
Baca Juga: Tersisih dari Timnas, Witan Sulaeman Tak Pernah Hilang dari Hati Penggemar
Survei Kyodo News yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan tingkat dukungan terhadap Ishiba jatuh ke rekor terendah, hanya 27,4%, dengan hampir 90% responden tidak puas terhadap respons pemerintah terhadap krisis harga beras.
Situasi ini menunjukkan bahwa di Jepang, sebutir beras pun dapat menjadi ujian besar bagi kelangsungan sebuah pemerintahan.