WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Armenia dan Azerbaijan resmi menandatangani perjanjian damai yang diprakarsai Amerika Serikat di Gedung Putih, Jumat (8/8), setelah puluhan tahun konflik berkepanjangan di kawasan Kaukasus Selatan. Kesepakatan ini tidak hanya mengakhiri permusuhan, tetapi juga membuka jalan bagi normalisasi hubungan diplomatik dan kerja sama ekonomi yang lebih luas. Seperti dikutip dari Reuters pada Sabtu (09/08/2025).
Baca Juga: Simulasi Krisis Taiwan: Singapura Muncul sebagai Penyelamat ASEAN
Presiden AS Donald Trump memimpin langsung seremoni penandatanganan bersama Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan. “Selama 35 tahun mereka berperang. Sekarang mereka menjadi sahabat, dan akan tetap bersahabat untuk waktu yang lama,” ujar Trump.
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian semua bentrokan, pengakuan integritas teritorial, pembukaan hubungan diplomatik, serta pemberian hak eksklusif bagi AS untuk mengembangkan koridor transit strategis di Kaukasus Selatan. Koridor ini diharapkan mempermudah ekspor energi dan sumber daya lainnya, sekaligus menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan Rusia, Eropa, Turki, dan Iran.
Gedung Putih menyebut, selain kesepakatan damai, AS juga menandatangani perjanjian terpisah dengan masing-masing negara untuk memperluas kerja sama di sektor energi, perdagangan, teknologi, dan kecerdasan buatan. Washington juga mencabut pembatasan kerja sama pertahanan dengan Azerbaijan — langkah yang dinilai dapat memicu kekhawatiran di Moskow.
Kedua pemimpin negara Kaukasus itu memuji peran Trump dalam proses perdamaian dan menyatakan akan menominasikannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian. Trump sendiri mengklaim kesepakatan ini sebagai salah satu pencapaian diplomatik besar di awal masa jabatan keduanya, setelah sebelumnya memediasi gencatan senjata Kamboja–Thailand, perdamaian Rwanda–Kongo, serta Pakistan–India.
Baca Juga: Jaga Penampilan Tetap On Point, Ini Jenis Lipstik yang Cocok untuk Bibir Hitam
Meski demikian, Trump belum berhasil mengakhiri perang Rusia–Ukraina yang sudah berlangsung 3,5 tahun maupun konflik Israel–Hamas di Gaza. Ia dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada 15 Agustus untuk membahas kemungkinan penghentian perang.
Para analis menilai perjanjian Armenia–Azerbaijan ini bisa menjadi titik balik kawasan yang selama ini dilanda ketegangan etnis dan penutupan perbatasan. Brett Erickson, pakar sanksi internasional, mengatakan kesepakatan ini juga dapat membantu Barat menutup celah yang digunakan Rusia untuk menghindari sanksi.
Artikel Terkait
Tangis dan Amarah Ayah Prada Lucky: Seragam Tak Lagi Suci Jika Pelaku Tak Dihukum Mati
Sadis! Suami Hajar Istri di Pinggir Jalan, Warga Hanya Menonton
Ditlantas Polda Sulteng Gelar Polantas Menyapa, Meriahkan HUT Ke-80 RI Dengan Berbagi Dan Pasangkan Bendera Merah Putih
Viral, Kisah Wanita Turunkan BB 38 Kg Hanya Dengan Metode Jalan Kaki 6-6-6
Jawab Kelakar Prabowo Soal PSI Atau Gerindra, Budi Arie Tegaskan Siap Ikuti Perintah Presiden
Berbagi Pengalaman, Raffi Ahmad Bagikan Tips Merintis Usaha: Harus Siap Capek Dan Mulai Dari Bawah
Pemerintah Percepat Operasi Pasar Dan Tindak Tegas Pengoplos Beras, Menko Pangan: Masyarakat Tak Usah Khawatir
Satreskrim Polres Morowali Utara Tangkap Pelaku Dugaan Penggelapan Rp1,8 M Hasil Ganti Rugi Lahan
Jaga Penampilan Tetap On Point, Ini Jenis Lipstik yang Cocok untuk Bibir Hitam
Simulasi Krisis Taiwan: Singapura Muncul sebagai Penyelamat ASEAN