Tangis dan Amarah Ayah Prada Lucky: Seragam Tak Lagi Suci Jika Pelaku Tak Dihukum Mati

photo author
Abdul Rifai, Metro Selebes
- Jumat, 8 Agustus 2025 | 21:08 WIB
Duka mendalam menyelimuti keluarga Prada Lucky CS. Namo, prajurit muda yang gugur dalam tugas. (Tangkap layar vidio fb kharul azzam)
Duka mendalam menyelimuti keluarga Prada Lucky CS. Namo, prajurit muda yang gugur dalam tugas. (Tangkap layar vidio fb kharul azzam)

 

JAKARTA, METROSELEBES.COM – Duka mendalam menyelimuti keluarga Prada Lucky CS. Namo, prajurit muda yang gugur dalam tugas.

Di tengah suasana haru saat jenazah tiba di Bandara melalui kargo militer, sang ayah mengeluarkan pernyataan tegas penuh emosi.

Ia menuntut keadilan yang setimpal atas kematian anaknya.

Baca Juga: Jerit Emosi Ayah Korban: TNI Diminta Kembali ke Jalur Kehormatan

Dalam video yang beredar luas di media sosial, sang ayah dengan suara bergetar namun penuh ketegasan menyatakan bahwa hukuman yang layak bagi pelaku hanyalah dua: hukuman mati dan pemecatan dari institusi militer. "Jangan ada ampun, jika tidak, seragam ini tidak lagi suci," katanya, sembari dikelilingi para personel TNI yang juga terlihat terpukul.

Prada Lucky diketahui menjadi korban dalam insiden kekerasan yang diduga terjadi di lingkungan militer.

Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Mabes TNI terkait identitas pelaku dan motif kejadian, namun publik sudah dihebohkan dengan banyaknya video dan kesaksian yang beredar.

Baca Juga: Wali Kota Palu Hadianto Rasyid Antar Dua ASN Pemkot Palu Magang di Itjen Kemendagri

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie, dalam wawancara sebelumnya menekankan bahwa reformasi budaya di tubuh militer adalah mutlak.

"Jika benar Prada Lucky adalah korban kekerasan dari sesama anggota, maka ini bukan hanya pelanggaran hukum, tapi juga pelanggaran nilai kehormatan tentara," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data dari Komnas HAM, selama lima tahun terakhir tercatat lebih dari 35 kasus kekerasan internal dalam institusi militer, dengan 60 persen korbannya adalah prajurit muda.

Baca Juga: Diduga Karena Cemburu Buta, Suami Rela Bakar Istri Hidup - Hidup di Mamboro, Kota Palu

Pernyataan “hukuman mati dan pemecatan dari tentara” yang disampaikan sang ayah kini menjadi sorotan publik dan memicu gerakan solidaritas dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari aktivis HAM, organisasi kepemudaan, hingga sesama prajurit.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Rifai

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X