Trump Nyatakan Perang Iran-Israel Sebagai “Kemenangan Bersama”, Reformasi Dalam Negeri Iran Mengemuka

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Rabu, 25 Juni 2025 | 19:45 WIB
Orang-orang berisyarat saat menghadiri sebuah pertemuan untuk mendukung Angkatan Bersenjata Iran, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran, di Teheran, Iran, 24 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS
Orang-orang berisyarat saat menghadiri sebuah pertemuan untuk mendukung Angkatan Bersenjata Iran, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Iran, di Teheran, Iran, 24 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS

Korban dan Klaim Kemenangan

 

Serangan Israel yang dimulai pada 13 Juni secara tiba-tiba telah menewaskan sejumlah tokoh militer dan ilmuwan nuklir papan atas Iran. Iran membalas dengan peluncuran rudal dalam jumlah besar, yang berhasil menembus pertahanan udara Israel untuk pertama kalinya.

 

Pihak berwenang Iran melaporkan 610 orang tewas dan hampir 5.000 lainnya terluka, sementara Israel mencatat 28 korban jiwa. Kedua pihak mengklaim kemenangan: Israel menyatakan telah menghancurkan target utama, sedangkan Iran menilai keberhasilannya menembus pertahanan Israel sebagai alasan utama gencatan senjata.

Baca Juga: Utusan Trump: Pembicaraan AS-Iran Menjanjikan, Peluang Damai Jangka Panjang Terbuka

Namun, kemampuan Israel menyerang pemimpin militer Iran secara presisi dan cepat menimbulkan tekanan besar bagi rezim ulama di Iran, terutama di saat negara itu menghadapi krisis suksesi menyusul usia lanjut Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang kini 86 tahun.

 

Kelegaan yang Dibalut Kekhawatiran

 

Di Iran dan Israel, warga menyambut baik berakhirnya konflik, meski tetap dibayangi kekhawatiran. Farah (67), seorang warga Teheran, kembali dari tempat pengungsian di Lavasan setelah gencatan senjata diumumkan. “Orang-orang lega, tapi tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya,” katanya. Ia khawatir perang justru akan diikuti dengan pengetatan aturan sosial seperti kewajiban berbusana.

 

Sementara di Tel Aviv, Rony Hoter-Ishay Meyer (38) menyampaikan kelegaannya karena anak-anak bisa kembali ke sekolah, namun mengaku masih sangat kelelahan secara emosional. “Dua minggu terakhir sungguh bencana. Kami benar-benar kehabisan tenaga dan ingin hidup normal kembali.”

Baca Juga: Koperasi Merah Putih” Jadi Senjata Baru Pemerintah Bangkitkan Ekonomi Desa

Kembali ke Meja Diplomasi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X