Sementara itu, saham raksasa logistik FedEx anjlok 5,5% dalam perdagangan pra-pasar setelah perusahaan memproyeksikan laba kuartalan yang berada di bawah ekspektasi pasar akibat dampak tarif terhadap permintaan global. Saham saingannya, UPS, juga terkoreksi 1,1%.
Di tengah penguatan pasar, investor turut memantau pertemuan para pemimpin NATO di Eropa, yang difokuskan pada komitmen peningkatan anggaran pertahanan. Pertemuan singkat ini dirancang untuk mengakomodasi Presiden Trump, yang kembali menegaskan dukungannya terhadap aliansi namun menegur anggota yang belum memenuhi target belanja militer.
Baca Juga: Utusan Trump: Pembicaraan AS-Iran Menjanjikan, Peluang Damai Jangka Panjang Terbuka
Data akhir PDB kuartal pertama dari Departemen Perdagangan dijadwalkan rilis pada Kamis, disusul laporan belanja konsumen (PCE) pada Jumat yang akan menjadi indikator penting untuk mengukur dampak ekonomi dari kebijakan tarif Trump sepanjang tahun ini.
Dari sektor korporasi, saham General Mills turun 1,8% setelah produsen makanan kemasan itu memperkirakan laba tahunan di bawah ekspektasi. Di sisi lain, saham Blackberry yang terdaftar di bursa AS melonjak 9% setelah perusahaan keamanan siber itu merevisi naik proyeksi pendapatan tahunannya, seiring meningkatnya permintaan di tengah melonjaknya kejahatan dunia maya.
Artikel Terkait
BSU 2025 Cair, Buruh Bergaji Rp3,5 Juta ke Bawah Jadi Prioritas
Koperasi Merah Putih” Jadi Senjata Baru Pemerintah Bangkitkan Ekonomi Desa
Tahun Ajaran Baru 2025, Sekolah Rakyat Siap Dimulai 14 Juli
DPR Apresiasi Aksi Cepat Presiden Prabowo Atasi Konflik Wilayah dan Tambang Raja Ampat
DPR Siap Kawal Tahun Sidang 2024–2025: Fokus Pengangguran, Haji 2025, dan Aturan Ojek Online
Utusan Trump: Pembicaraan AS-Iran Menjanjikan, Peluang Damai Jangka Panjang Terbuka
Semangat Gotong Royong Kopdes: Kunci Pengawasan dan Profesionalisme Koperasi Desa
Kopdes Merah Putih Jadi Solusi Modal Usaha Tanpa Jaminan Pribadi
Trump Yakinkan Komitmen ke NATO saat Aliansi Sepakati Target Belanja Pertahanan 5% PDB
Penjualan Tesla di Eropa Anjlok Lima Bulan Berturut-turut, BYD Nyaris Menyamai