Sterling Mendekati Puncak, Tapi Fiskal Inggris Di Ujung Tanduk?

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Rabu, 11 Juni 2025 | 20:57 WIB
Uang kertas pound terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 4 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS
Uang kertas pound terlihat dalam ilustrasi yang diambil pada 4 Mei 2025. Source FOTO: REUTERS

LONDON,METROSELEBES.COM-Nilai tukar pound sterling mendekati level tertingginya dalam tiga tahun terhadap dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Inggris (gilt) naik pada Rabu, setelah Menteri Keuangan Rachel Reeves mengumumkan tinjauan belanja multi-tahun yang menyoroti tantangan fiskal yang dihadapi Inggris di tengah tekanan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Dari London ke Washington: Ketidakpastian Dagang Bayangi Laporan Inflasi AS

Dalam pengumuman tersebut, Reeves membagi alokasi anggaran lebih dari 2 triliun pound sterling (setara sekitar $2,7 triliun), dengan anggaran masing-masing kementerian diproyeksikan tumbuh 2,3% per tahun dalam istilah riil. Namun, para analis menilai bahwa tinjauan tersebut menegaskan terbatasnya ruang fiskal yang dimiliki pemerintah, yang berpotensi mendorong kenaikan pajak pada akhir tahun ini.

 

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun sempat naik hingga 7 basis poin menjadi 4,61%, sebelum akhirnya turun ke level 4,57% setelah rilis data inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan memicu reli pasar obligasi global. Meskipun turun, yield tersebut tetap berada di atas rata-rata negara maju lainnya dan menunjukkan kinerja yang lebih lemah dibandingkan obligasi negara Eropa besar lainnya, yang cenderung stabil pada hari itu.

Baca Juga: Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Baru: China Suplai Mineral Langka, AS Buka Pintu bagi Mahasiswa Tiongkok

Sterling terakhir tercatat menguat 0,3% ke level $1,354 terhadap dolar AS, seiring pelemahan mata uang Amerika tersebut terhadap mata uang utama lainnya. Terhadap euro, pound hanya sedikit melemah dan diperdagangkan di kisaran 84,73 pence.

 

Menurut Jason Da Silva, Direktur Strategi Investasi Global di Arbuthnot Latham, pasar saat ini berada dalam dilema antara prospek pemangkasan suku bunga yang lebih cepat akibat perlambatan ekonomi, dan kekhawatiran fiskal yang justru menekan biaya pinjaman ke atas.

“Ini adalah keseimbangan yang sangat sulit. Biasanya ketika pertumbuhan ekonomi lesu, imbal hasil obligasi akan turun. Tapi dalam kasus ini, belanja pemerintah yang meningkat dan utang yang tinggi menjadi hambatan bagi pasar obligasi Inggris,” ujarnya.

Baca Juga: Los Angeles Mencekam: Aksi Protes Imigrasi Meluas, Trump Kirim Marinir dan National Guard

Kekhawatiran terhadap posisi fiskal Inggris yang rapuh telah membebani kinerja aset-aset keuangan negara tersebut dalam beberapa bulan terakhir. Obligasi pemerintah Inggris bertenor 30 tahun tetap menjadi yang paling tinggi dalam kelompok negara-negara industri G7, mencerminkan persepsi risiko fiskal yang lebih besar.

 

Di sisi lain, sterling dan saham-saham Inggris mendapat dukungan dari sentimen negatif investor global terhadap aset-aset AS, dipicu oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dan ketidakpastian arah ekonomi Negeri Paman Sam. Hal ini mendorong investor untuk mendiversifikasi portofolio mereka ke luar pasar AS, memberikan sedikit angin segar bagi pasar keuangan Inggris.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X