LONDON,METROSELEBES.COM-Setelah banyak ekspektasi dan spekulasi, pembicaraan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok pekan ini hanya menghasilkan sebuah kerangka kerja tanpa rincian konkret yang mampu memuaskan pasar. Investor global kini mengalihkan fokus mereka ke laporan inflasi konsumen Amerika Serikat yang dirilis hari ini, serta lelang besar surat utang negara bertenor panjang, termasuk Treasury Notes bertenor 10 tahun senilai $39 miliar. Seperti dikutip dari Reuters pada Rabu (11/06/2025).
Kesepakatan Dagang Minim Kepastian. Dalam pertemuan dua hari di London, pejabat AS dan Tiongkok mengumumkan bahwa mereka telah menyepakati sebuah framework untuk memulihkan gencatan dagang dan mencabut sebagian pembatasan ekspor Tiongkok atas logam tanah jarang. Namun, kesepakatan ini tidak memberikan sinyal kuat mengenai penyelesaian jangka panjang atas konflik dagang yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyebut kerangka kerja ini sebagai “daging pada tulang” dari perjanjian yang sempat macet di Jenewa bulan lalu. Fokus utamanya adalah pencabutan pembatasan ekspor logam tanah jarang dan magnet dari Tiongkok, serta sebagian pelonggaran ekspor AS secara seimbang. Namun, tidak ada kejelasan lebih lanjut mengenai tarif bilateral yang sangat tinggi yang sempat diberlakukan dan kemudian dihentikan sementara dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Los Angeles Mencekam: Aksi Protes Imigrasi Meluas, Trump Kirim Marinir dan National Guard
Tiongkok Ambil Inisiatif di Pasar Logam Tanah Jarang. Pasar saham Tiongkok merespons positif hasil pembicaraan tersebut. Indeks CSI300 dan HSI mencatat kenaikan hampir 1%, sementara indeks CSI Rare Earth melonjak hampir 4%. Kabar bahwa perusahaan produsen magnet logam tanah jarang JL MAG Rare-Earth telah mendapatkan lisensi ekspor ke AS, Eropa, dan Asia Tenggara turut mendorong euforia di sektor tersebut.
Tiongkok saat ini memegang dominasi hampir penuh atas produksi magnet tanah jarang, komponen penting dalam motor kendaraan listrik. Pembatasan ekspor yang diberlakukan Beijing sejak April lalu telah mengguncang rantai pasok global. Sebagai respons, Washington bulan Mei menangguhkan ekspor perangkat lunak desain semikonduktor, bahan kimia, dan perlengkapan penerbangan ke Tiongkok.
Pasar AS dan Ketidakpastian Inflasi. Di tengah ketidakpastian ini, perhatian investor AS tertuju pada data inflasi konsumen bulan Mei yang diperkirakan meningkat moderat karena harga bensin yang relatif rendah. Namun, pengaruh tarif kemungkinan mulai terasa di berbagai barang lainnya, mendorong potensi tekanan inflasi yang lebih luas. Inflasi inti (Core CPI) diperkirakan mencapai 0,3% bulan lalu, yang akan mendorong laju tahunan menjadi 2,9%, naik dari 2,8% di April.
Perkembangan Global Lainnya. Sementara itu, bank investasi JPMorgan merevisi proyeksi nilai tukar yuan menjadi lebih kuat, dari 7,30 menjadi 7,15 terhadap dolar AS di akhir tahun, melihat tren moderasi risiko dagang dan tema global de-dolarisasi.
Artikel Terkait
Indeks Saham India Diprediksi Menguat, Didukung Optimisme Perdagangan Global
Harga Emas Naik di Tengah Ketidakpastian Perdagangan AS-China, Pasar Menanti Data Inflasi AS
Taktik Baru ICE Dikecam: Target Penangkapan Harian Tiga Kali Lipat, Warga Tak Berdokumen Jadi Sasaran Acak
Mentan Amran Targetkan Swasembada Gula 2028-2030
Deklarasi Bersih dari Korupsi: Kemenkop Kawal 80.000 Kopdes Merah Putih dengan Integritas
Los Angeles Mencekam: Aksi Protes Imigrasi Meluas, Trump Kirim Marinir dan National Guard
Mimpi Gaji Tinggi Berujung Jerat: Waspada Penipuan Berkedok Kerja di Luar Negeri
Kampus Bhinneka Tangguh Unhan RI Diresmikan, Jadi Pilar Pendidikan Patriotik Masa Depan
Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Baru: China Suplai Mineral Langka, AS Buka Pintu bagi Mahasiswa Tiongkok
Filantropi Militer: Menelusuri Jejak Kemanusiaan D.I. Pandjaitan di Tengah Dinamika Patriotisme Kontemporer