HARARE,METROSELEBES.COM-Pemerintah Zimbabwe kembali mengeluarkan izin untuk melakukan pembantaian terhadap sedikitnya 50 ekor gajah di kawasan konservasi Save Valley Conservancy, wilayah selatan negara tersebut. Langkah ini diambil karena populasi gajah di kawasan tersebut telah mencapai angka yang dinilai jauh melebihi kapasitas daya dukung habitatnya. Seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (03/06/2025).
Baca Juga: Tragedi di Rafah: Sedikitnya 27 Warga Palestina Tewas Dekat Lokasi Bantuan, PBB Desak Investigasi
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Otoritas Taman Nasional dan Pengelolaan Satwa Liar Zimbabwe (ZimParks), disebutkan bahwa kawasan Save Valley saat ini menampung sekitar 2.550 ekor gajah. Padahal, daya tampung ideal kawasan tersebut hanya sekitar 800 ekor.
Selama lima tahun terakhir, pihak konservasi sebenarnya telah berupaya mengendalikan populasi dengan memindahkan sekitar 200 ekor gajah ke cagar alam lain. Namun, upaya itu belum cukup mengurangi tekanan ekologis yang disebabkan oleh kelebihan populasi.
Baca Juga: Trump dan Xi Siap Bicara di Tengah Memanasnya Perang Dagang Global
Sebagai bagian dari kebijakan pengelolaan populasi satwa liar, daging dari gajah yang dibunuh akan dibagikan kepada masyarakat setempat sebagai sumber pangan, sementara gadingnya akan diserahkan kepada otoritas taman nasional untuk pengelolaan lebih lanjut.
Zimbabwe merupakan salah satu negara dengan populasi gajah terbesar di dunia. Namun, perubahan iklim dan menyusutnya sumber daya alam telah memperparah konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya gajah yang mulai memasuki permukiman untuk mencari makanan dan air.
Baca Juga: Produksi Golf Menurun, Apakah Empat Hari Kerja Cukup?
Tahun lalu, pemerintah Zimbabwe juga mengesahkan pembantaian sekitar 200 ekor gajah—yang merupakan pembantaian pertama sejak 1988—untuk mengurangi dampak kekeringan ekstrem yang melanda kawasan Afrika bagian selatan. Kebijakan serupa juga diambil oleh Namibia, yang membagikan daging gajah kepada warga terdampak.
Baca Juga: Kesepakatan Nuklir Baru AS-Iran Terancam Gagal Jika Celah Pengawasan IAEA Tak Ditutup
Langkah kontroversial ini menuai reaksi beragam dari masyarakat internasional dan kelompok pelindung satwa liar. Namun, pemerintah Zimbabwe bersikukuh bahwa kebijakan tersebut merupakan tindakan darurat demi menjaga keseimbangan ekosistem serta keselamatan manusia yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.
Artikel Terkait
Bantuan PKH Diperbarui, Ribuan Keluarga Tak Lagi Terima Dana Sosial
Kesepakatan Nuklir Baru AS-Iran Terancam Gagal Jika Celah Pengawasan IAEA Tak Ditutup
Meta dan Energi Nuklir: Langkah Besar Teknologi Dunia yang Bisa Jadi Contoh untuk Indonesia
Target Energi Bersih 2030 Terancam, Siemens Desak Inggris Naikkan Kapasitas Lelang Angin Laut
Quick Win Kesehatan: 7,4 Juta Warga Terlayani, 32 RSUD Siap Naik Kelas, dan Desa Siaga TBC Dimulai
Produksi Golf Menurun, Apakah Empat Hari Kerja Cukup?
Di Tengah Perlambatan, Pemerintah Rusia Ingin Kebijakan Moneter Dilonggarkan
Gerai Kopdes Merah Putih Jadi Simbol Kebangkitan Ekonomi Desa di NTB
Trump dan Xi Siap Bicara di Tengah Memanasnya Perang Dagang Global
Tragedi di Rafah: Sedikitnya 27 Warga Palestina Tewas Dekat Lokasi Bantuan, PBB Desak Investigasi