Saham Asia Bangkit Perlahan, Dolar Tersandung Isu Tarif dan Utang AS

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Selasa, 3 Juni 2025 | 09:27 WIB
Seorang pejalan kaki melewati monitor elektronik yang menampilkan indeks harga saham berbagai negara di luar sebuah bank di Tokyo, Jepang. Source FOTO: REUTERS
Seorang pejalan kaki melewati monitor elektronik yang menampilkan indeks harga saham berbagai negara di luar sebuah bank di Tokyo, Jepang. Source FOTO: REUTERS

Dolar Tertekan, Fokus ke Data Tenaga Kerja AS. Di pasar mata uang, dolar AS melemah ke level 98,58 terhadap sekeranjang mata uang dunia—terendah dalam enam minggu—seiring meningkatnya perhatian terhadap data ketenagakerjaan non-pertanian AS yang akan dirilis Jumat. Laporan tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran terkini tentang kondisi ekonomi AS.

Baca Juga: Indonesia Mantapkan Langkah Strategis Menuju Keanggotaan OECD

Tingkat pengangguran yang naik bisa menjadi satu-satunya faktor yang dapat mendorong Federal Reserve untuk kembali mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter, meskipun harapan akan pemangkasan suku bunga bulan ini atau berikutnya sudah sangat menipis.

 

Sementara itu, euro sempat menyentuh puncak enam minggu sebelum terkoreksi sedikit ke level $1.1426, dan poundsterling turun tipis 0,09% ke $1.3532.

Baca Juga: Pemerintah Resmi Batalkan Rencana Diskon Listrik Juni–Juli 2025, Diganti Dengan Bantuan Subsidi Upah

Di pasar obligasi, laporan tenaga kerja yang lemah akan memberi sedikit kelegaan, terutama pada yield obligasi AS tenor 30 tahun yang terus mendekati level 5%. Para investor kini menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk mengimbangi peningkatan besar dalam pasokan utang. Pekan ini, Senat AS akan mulai membahas RUU perpajakan dan pengeluaran yang diperkirakan menambah $3,8 triliun ke utang nasional AS yang sudah mencapai $36,2 triliun.

 

"Data menunjukkan bahwa premi risiko jangka panjang sedang dinaikkan secara signifikan untuk mencerminkan risiko fiskal, perdagangan, kredit, dan geopolitik AS, serta sebagai lindung nilai terhadap potensi pelemahan dolar," kata Vishnu Varathan, kepala riset makro Asia ex-Jepang di Mizuho.

Baca Juga: Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Hadiri Peringatan Hari Nasional Italia, Tampilkan Sejarah Demokrasi dan Budaya Negeri Pizza

Di pasar mata uang Asia, dolar menguat 0,35% terhadap yen ke 143,20, membalikkan sebagian penurunan 0,9% dari sesi sebelumnya. Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, menyatakan pentingnya mengambil keputusan kebijakan tanpa prasangka, mengingat ketidakpastian kebijakan tarif global yang masih sangat tinggi.

 

Harga Minyak dan Emas Naik. Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik karena kekhawatiran pasokan. Kontrak Brent naik 0,88% ke $65,20 per barel, sementara minyak mentah AS naik 1% menjadi $63,13 per barel. Emas spot juga melonjak ke level tertinggi dalam sebulan di $3.392,03 per ons.

Baca Juga: Dua Guru Besar Gugat UU Kesehatan: Soroti Pasal 308 Sebagai Instrumen Kepastian Hukum

Dengan ketidakpastian global yang tinggi dan ketegangan perdagangan yang terus membayangi, pasar tampaknya akan tetap bergejolak hingga adanya kepastian konkret dari para pemimpin dunia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X