Saham Asia Bangkit Perlahan, Dolar Tersandung Isu Tarif dan Utang AS

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Selasa, 3 Juni 2025 | 09:27 WIB
Seorang pejalan kaki melewati monitor elektronik yang menampilkan indeks harga saham berbagai negara di luar sebuah bank di Tokyo, Jepang. Source FOTO: REUTERS
Seorang pejalan kaki melewati monitor elektronik yang menampilkan indeks harga saham berbagai negara di luar sebuah bank di Tokyo, Jepang. Source FOTO: REUTERS

SINGAPURA,METROSELEBES.COM-Pasar saham Asia dibuka menguat secara hati-hati pada Selasa ini (03/06/2025), sementara dolar AS melemah ke level terendah dalam enam minggu. Ketidakpastian yang terus berlangsung terkait kebijakan perdagangan Amerika Serikat mendorong investor untuk bersikap defensif menjelang peristiwa penting yang dijadwalkan akhir pekan ini.

Baca Juga: Pemilu Presiden Korsel Digelar di Tengah Luka Pascamartial Law, Rakyat Siap Tentukan Arah Baru Bangsa

Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan berbicara melalui telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan ini datang hanya beberapa hari setelah Trump menuduh Beijing melanggar kesepakatan yang sebelumnya dicapai untuk menurunkan tarif dan hambatan perdagangan. Pasar global akan memantau ketat pertemuan ini, mencari kepastian apakah ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia akan mereda atau justru semakin memanas.

Baca Juga: Desa Cerdas, Indonesia Berkembang: Festival Bangun Desa 2025 Dorong Aksi Nyata Masyarakat Lokal

Sinyal perlambatan ekonomi semakin terlihat dari data terbaru yang dirilis pada Senin, menunjukkan bahwa sektor manufaktur AS mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut hingga Mei. Para pemasok pun mengalami waktu pengiriman terlama dalam hampir tiga tahun akibat tekanan tarif. Ekonom dari Wells Fargo menyatakan bahwa "tekanan tarif mulai terasa bagi para produsen dengan aktivitas yang melambat, waktu tunggu yang lebih lama, dan penurunan persediaan."

 

Sementara itu, survei sektor swasta mengungkapkan bahwa aktivitas pabrik di Tiongkok pada Mei juga menyusut untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, mencerminkan dampak nyata dari tarif AS terhadap sektor manufaktur Negeri Tirai Bambu.

 

Dampak dari situasi ini terasa luas. Indeks saham berjangka AS, seperti Nasdaq dan S&P 500, turun masing-masing 0,2% di awal sesi Asia. Sebaliknya, bursa Eropa dibuka lebih optimistis dengan EUROSTOXX 50 naik 0,28% dan FTSE bertambah 0,15%. Di Asia, indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,6%, sedangkan indeks Nikkei Jepang menguat 0,66%.

Baca Juga: Menyemai Harapan di Bumi Buol: Kunjungan Edukatif yang Bangkitkan Semangat Generasi Muda

"Trump sekali lagi memegang kendali atas sentimen pasar," ujar Matt Simpson, analis pasar senior di City Index. Ia menambahkan bahwa komentar positif dari Trump soal pembicaraan telepon mendatang bisa memicu volatilitas pasar, mengingat konfirmasi resmi dari pihak Tiongkok biasanya datang lebih lambat.

 

Pasar saham di Tiongkok daratan, yang baru kembali dari libur panjang, dibuka lesu. Indeks blue-chip CSI300 naik 0,23%, dan Indeks Komposit Shanghai menguat 0,3%. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melonjak lebih dari 1% setelah sempat menyentuh level terendah satu bulan pada hari sebelumnya.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X