Ekonomi Tiongkok Bangkit atau Hanya Sekadar Nafas Panjang?

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Rabu, 28 Mei 2025 | 03:19 WIB
Para pekerja terlihat di lini produksi baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik (EV) di sebuah pabrik di Huzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok. Source FOTO: REUTERS
Para pekerja terlihat di lini produksi baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik (EV) di sebuah pabrik di Huzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok. Source FOTO: REUTERS

BEIJING,METROSELEBES.COM-Upaya stimulus yang digulirkan pemerintah Tiongkok mulai menunjukkan hasil positif terhadap perekonomian nasional. Data resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS) menunjukkan laba industri Tiongkok meningkat signifikan pada April, memberikan harapan bagi para pembuat kebijakan di tengah tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi global.

Baca Juga: Lee Jae-myung Unggul Jauh Jelang Pilpres Korea Selatan, Isu Politik dan Keamanan Mengemuka

Laba industri naik 3,0% secara tahunan pada April, melampaui kenaikan 2,6% pada bulan sebelumnya. Secara kumulatif, selama periode Januari hingga April 2025, laba industri tumbuh 1,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini juga menunjukkan percepatan dari pertumbuhan 0,8% yang tercatat pada kuartal pertama.

 

Dan Wang, Direktur China di Eurasia Group, menyatakan bahwa prioritas kebijakan industri Tiongkok tampaknya mulai membuahkan hasil. "Komoditas yang terkait dengan rantai pasok energi baru dan material baru menunjukkan performa baik, begitu juga dengan sektor manufaktur berteknologi tinggi," ungkapnya.

Baca Juga: Pengobatan Alat Vital Paling Ampuh di Sigi, Palu oleh H. Abdul Azis

Sejak September lalu, pemerintah telah secara bertahap menyuntikkan berbagai stimulus ekonomi, mulai dari pemotongan suku bunga hingga injeksi likuiditas besar-besaran pada awal Mei, untuk mendongkrak permintaan domestik dan memulihkan kepercayaan investor.

 

Namun, ancaman dari luar negeri masih membayangi. Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk kembali memperkeruh hubungan dagang dengan Tiongkok telah menimbulkan kekhawatiran mendalam, terutama karena ekspor masih menjadi andalan utama pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu, di tengah lemahnya permintaan domestik dan tekanan deflasi.

Baca Juga: Korea Utara Kecam Proyek Golden Dome AS: Skenario Perang Nuklir di Luar Angkasa

Laporan Moody’s yang dirilis Senin lalu mempertahankan prospek negatif terhadap perekonomian Tiongkok, meskipun mengakui adanya perbaikan kebijakan fiskal dan manajemen utang BUMN serta pemerintah daerah yang sebelumnya menjadi sorotan. Moody’s juga menyoroti potensi dampak jangka panjang dari ketegangan dagang terhadap profil kredit Tiongkok.

 

Data NBS menunjukkan bahwa laba perusahaan milik negara (BUMN) justru turun 4,4% dalam empat bulan pertama tahun ini. Sebaliknya, perusahaan swasta dan asing mencatatkan pertumbuhan laba masing-masing sebesar 4,3% dan 2,5%.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X