SEOUL,METROSELEBES.COM-Jelang pemilihan presiden Korea Selatan yang akan digelar secara mendadak pada 3 Juni, calon dari Partai Demokrat, Lee Jae-myung, menunjukkan keunggulan signifikan atas rival konservatifnya, Kim Moon-soo. Survei terbaru Gallup Korea yang dirilis Selasa ini menunjukkan Lee meraih dukungan 49% pemilih, unggul lebih dari 10 poin persentase dibandingkan Kim yang memperoleh 35%, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (27/05/2025).
Baca Juga: Korea Utara Kecam Proyek Golden Dome AS: Skenario Perang Nuklir di Luar Angkasa
Meskipun selisih suara menyempit sejak awal kampanye pada 12 Mei—saat Lee unggul lebih dari 20 poin—Kim masih kesulitan menyatukan suara kubu konservatif. Upayanya menggandeng Lee Jun-seok dari Partai Reformasi Baru agar mundur dan mendukung pencalonannya belum membuahkan hasil. Lee Jun-seok, yang menempati posisi ketiga dalam jajak pendapat dengan 11% suara, tetap melanjutkan pencalonannya, menambah kompleksitas dinamika persaingan.
Pemilu ini diadakan setelah Presiden Yoon Suk Yeol diberhentikan secara resmi pada 4 April lalu oleh Mahkamah Konstitusi. Yoon tengah menjalani persidangan atas tuduhan makar, termasuk upaya penangkapan terhadap Lee Jae-myung dan tokoh-tokoh oposisi lainnya saat masih menjabat, serta deklarasi darurat militer kontroversial pada Desember lalu yang memicu gelombang protes nasional.
Baca Juga: Jagung NTB Tembus Blitar: Strategi Bapanas Jaga Harga dan Penuhi Pakan Ternak
Lee Jae-myung, yang selama ini dikenal dengan pendekatan ekonomi berbasis kebijakan fiskal dan komitmennya membawa pelaku krisis politik ke pengadilan, berhasil mempertahankan dukungan kuat di tengah lanskap politik yang sangat terpolarisasi. Sebaliknya, Kim berupaya menarik simpati pemilih moderat dengan janji kebijakan pro-bisnis dan pendekatan keras terhadap Korea Utara.
Namun, kubu progresif juga tak luput dari friksi internal. Mantan Perdana Menteri Lee Nak-yon yang mewakili faksi minoritas di Partai Demokrat, menyatakan dukungannya terhadap Kim, dengan alasan perlunya mengimbangi potensi dominasi kekuasaan Lee Jae-myung.
Baca Juga: Empat Srikandi Belanda Resmi Jadi WNI, Siap Perkuat Timnas Sepak Bola Putri Indonesia
Menurut Choi Jin, Direktur Institut Kepemimpinan Kepresidenan di Seoul, peluang Kim untuk mengejar ketertinggalan dalam waktu singkat sangat kecil. "Nyaris mustahil bagi Kim menciptakan kejutan besar, dan juga kecil kemungkinan Lee melakukan kesalahan fatal," ujarnya.
Sementara itu, isu keamanan dan diplomasi menjadi sorotan dalam debat televisi terakhir. Lee menekankan pentingnya kerja sama trilateral dengan Amerika Serikat dan Jepang, namun menyarankan agar Korea Selatan tidak perlu memusuhi Cina dan Rusia secara berlebihan. Kim, di sisi lain, membuka kemungkinan memperkuat keamanan nasional dengan senjata nuklir, selama tetap dalam kerangka aliansi dengan Washington.