Di sisi lain, kekhawatiran pasar juga muncul dari kebijakan fiskal Trump. Presiden AS menyebutkan bahwa rancangan undang-undang pemotongan pajak dan belanja besar-besaran yang saat ini digodok di Kongres kemungkinan akan mengalami perubahan besar di Senat. Versi DPR dari RUU tersebut diperkirakan akan menambah utang pemerintah federal sebesar $3,8 triliun dalam 10 tahun ke depan, menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO).
Baca Juga: Sejarah Baru! Inggris Cetak Rekor Enam Wakil di Liga Champions
Chris Weston, Kepala Riset di Pepperstone, menambahkan, "Yang tampak jelas dari rancangan undang-undang rekonsiliasi ini adalah bahwa Trump dan Menteri Keuangan Scott Bessent telah berbalik arah dari konservatisme fiskal menuju kebijakan pertumbuhan agresif."
Analis menilai bahwa kombinasi kebijakan fiskal longgar dan ketidakpastian geopolitik bisa menandai awal dari pelemahan dolar AS dalam jangka panjang. Kini, pelaku pasar menanti perkembangan negosiasi antara AS dan Uni Eropa menjelang batas waktu baru pada 9 Juli.
Artikel Terkait
Hong Kong Siap Tampung Mahasiswa Asing Usai Harvard Dilarang Terima Pelajar Internasional
BI Longgarkan Aturan, Perbankan Dapat Napas Baru Jelang Paruh Kedua 2025
Macron Kunjungi Vietnam: Teken Kesepakatan Airbus dan Satelit, Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Trump Isyaratkan Terobosan dalam Negosiasi Nuklir dengan Iran
Harmoni Cinta Dua Budaya: Pernikahan Al Ghazali & Alyssa Daguise Bak Konser Keluarga Musik Legendaris
Resepsi Pernikahan Al Ghazali, Maia Estianty Absen: Bay Indonesia
Dana Parpol Mau Naik 10 Kali Lipat? Ini Penegasan Puan Maharani soal Efisiensi dan Kepentingan Rakyat
Koperasi Merah Putih Jadi Simbol Kebangkitan Ekonomi Desa 2025"
Reformasi Birokrasi Bermoral: Wajah Baru Kementerian Agama Menuju 2029
Pasar Global Bergejolak: Nvidia Tutup Musim Laporan Keuangan di Tengah Ancaman Inflasi dan Volatilitas Obligasi